OPEC+ Genjot Produksi, Harga Minyak Dunia Terancam Anjlok?

Author Image

Hadi Wibawa

6 Juli 2026, 08:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan Sekutunya (OPEC+) telah mencapai kesepakatan krusial untuk mengerek target produksi minyak mentah mereka, efektif mulai Agustus 2026. Keputusan ini, yang diharapkan menambah pasokan global secara signifikan, muncul di tengah tren penurunan harga minyak dunia dan pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap, membuka babak baru dalam dinamika pasar energi global.

Menurut laporan yang diterima Redaksibengkulu.co.id dari CNBC pada Senin (6/7/2026), konsensus yang dicapai dalam pertemuan daring tersebut menetapkan peningkatan kuota produksi sebesar 188.000 barel per hari. Angka ini akan mulai berlaku pada bulan kedelapan tahun 2026, menandai upaya kelompok produsen minyak untuk menyeimbangkan pasar.

OPEC+ Genjot Produksi, Harga Minyak Dunia Terancam Anjlok?
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Sebelumnya, kelompok yang mencakup raksasa energi seperti Rusia ini telah berupaya menaikkan kuota produksi mereka sekitar 800.000 barel per hari untuk periode April hingga Juli 2026. Namun, sebagian besar peningkatan tersebut hanya bersifat nominal atau ‘di atas kertas’, mengingat konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran vital untuk minyak.

Data menunjukkan bahwa produksi OPEC+ sempat anjlok signifikan, mencapai 33,13 juta barel per hari pada Mei 2026, jauh di bawah angka 42,77 juta barel per hari yang tercatat pada Februari 2026. Meskipun demikian, sinyal pemulihan mulai terlihat pada Juni 2026, didorong oleh intervensi Amerika Serikat yang memfasilitasi Uni Emirat Arab (UEA) dan anggota OPEC+ lainnya untuk meningkatkan ekspor minyak. Kendati demikian, volume produksi masih belum mencapai level pra-konflik.

Fenomena menarik terjadi di pasar, di mana harga minyak justru kembali ke tingkat sebelum perang, meskipun gangguan pasokan masih berlanjut. Penurunan harga ini dipicu oleh beberapa faktor, antara lain melemahnya permintaan impor dari Tiongkok, peningkatan ekspor dari negara-negara produsen di luar Timur Tengah, serta langkah terkoordinasi Badan Energi Internasional (IEA) dalam melepas cadangan strategis global.

Giovanni Staunovo, seorang analis dari UBS, menyoroti bahwa "Kelompok tujuh negara tersebut terus mengurangi pemotongan produksi mereka seperti yang diperkirakan." Ia menambahkan, fokus utama dalam jangka pendek akan tertuju pada "berapa banyak kapal tanker yang akan berhasil melewati Selat Hormuz, seberapa cepat permintaan dan impor minyak mentah Tiongkok pulih." Sebagai konteks, harga minyak mentah jenis Brent sempat diperdagangkan mendekati US$ 72 per barel pada Jumat (3/7), sebuah penurunan drastis dari puncaknya yang sempat melampaui US$ 120 per barel. Angka ini menandai kembalinya harga ke level sebelum agresi AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Related Post