Redaksibengkulu.co.id melaporkan bahwa ambisi pemerintah Indonesia untuk memacu pertumbuhan ekonomi melalui suntikan investasi besar, yang salah satunya digerakkan oleh Danantara, kini dihadapkan pada bayang-bayang ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang memanas antara Iran dan Israel-Amerika Serikat menjadi sorotan utama, memicu pertanyaan tentang stabilitas iklim investasi nasional. Menteri Investasi dan Hilirisasi, sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa setiap dinamika global selalu membuka dua sisi mata uang: risiko dan peluang.
Pernyataan ini disampaikan Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada 4 Maret 2026. “Setiap kejadian kita bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda. Apakah ini justru menciptakan peluang baru, baik dari segi investasi maupun perdagangan? Kami senantiasa melakukan pengkajian komprehensif terhadap seluruh dampaknya,” ujar Rosan, seperti dikutip dari Antara. Ia menambahkan, pemerintah secara konsisten mengevaluasi situasi global dari berbagai aspek, didukung koordinasi lintas kementerian yang intensif guna menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi di tengah gejolak global.
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id
Rosan menekankan kontribusi signifikan investasi terhadap perekonomian nasional, menjadikan penguatan iklim usaha sebagai prioritas utama. Selain itu, pemerintah berkomitmen menjaga disiplin fiskal, mendorong laju ekspor, serta memastikan keberlanjutan proyek-proyek strategis. Dalam langkah antisipasi, pembahasan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk kementerian teknis dan lembaga terkait, guna merumuskan skenario dampak jangka pendek dan menengah secara matang. “Yang pasti kita kaji itu semua, mungkin dalam hal ini dari segi investasi, ketahanan ekonomi dan lain-lain,” jelasnya.
Senada dengan Rosan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dalam catatan redaksibengkulu.co.id, sebelumnya mengungkapkan bahwa pemerintah berupaya agar pertumbuhan ekonomi tidak semata-mata bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sebaliknya, peran Danantara sebagai Sovereign Wealth Fund dan sektor swasta diharapkan menjadi pilar penopang utama. “Agar percepatan investasi ke depan tidak hanya mengandalkan APBN, tetapi juga ditopang oleh penguatan peran swasta dan Danantara Indonesia,” kata Purbaya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI pada 10 September 2025.
Proyeksi investasi nasional menunjukkan ambisi besar. Pada tahun 2025, Indonesia ditargetkan meraup investasi sebesar Rp 6.950 triliun. Dari jumlah tersebut, Danantara atau BUMN diharapkan menyumbang Rp 380 triliun, pemerintah melalui APBN Rp 490 triliun, dan swasta Rp 6.080 triliun. Tren peningkatan kontribusi Danantara diproyeksikan berlanjut. Pada 2026, target Danantara naik menjadi Rp 720 triliun, pemerintah Rp 530 triliun, dan swasta Rp 6.200 triliun. Tahun 2027, Danantara diharapkan mencapai Rp 770 triliun, pemerintah Rp 600 triliun, dan swasta Rp 6.800 triliun. Kemudian pada 2028 target investasi Danantara semakin tinggi menjadi Rp 860 triliun, pemerintah Rp 640 triliun, dan swasta Rp 7.500 triliun. Puncaknya pada 2029, target investasi Danantara mencapai Rp 980 triliun, pemerintah Rp 710 triliun, dan swasta Rp 8.300 triliun, dengan total realisasi investasi Indonesia mencapai Rp 10.000 triliun.
“Ke depan diharapkan kontribusi investasi dari Danantara terus meningkat hingga tahun 2029, sejalan dengan meningkatnya kontribusi swasta,” pungkas Purbaya kala itu. Hal ini menggarisbawahi strategi pemerintah untuk mendiversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi dan memperkuat ketahanan investasi di tengah ketidakpastian global.
Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih
Tinggalkan komentar