AMBON – Melansir laporan dari redaksibengkulu.co.id, geliat ekonomi kreatif di wilayah Maluku kini tengah disokong oleh keindahan warisan leluhur. Di Desa Tawiri, Ambon, tradisi menenun kain ikat Tanimbar bukan sekadar upaya menjaga budaya, melainkan telah bertransformasi menjadi mesin penggerak kesejahteraan bagi masyarakat setempat.
Melalui tangan terampil para perajin yang tergabung dalam Kelompok Tenun Ikat Mawar, kain-kain indah ini diproduksi dengan mempertahankan teknik tradisional yang autentik. Salah satu keunggulan utama yang membuat produk mereka bernilai tinggi adalah penggunaan pewarna alami, yang menjamin kualitas serta keramahan lingkungan pada setiap helai kain yang dihasilkan.

Tak hanya memproduksi kain lembaran, kelompok ini juga mulai melakukan inovasi dengan mengolah sisa kain tenun menjadi berbagai aksesori menarik. Diversifikasi produk ini terbukti efektif dalam memperluas jangkauan pasar dan menarik minat konsumen yang lebih luas.
Also Read
Dampak ekonomi dari pelestarian budaya ini pun sangat nyata. Berdasarkan data yang dihimpun redaksibengkulu.co.id, aktivitas menenun ini mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan rumah tangga. Rata-rata warga yang aktif dalam kegiatan menenun ini dapat mengantongi penghasilan mencapai Rp3 juta per bulan.
Keberhasilan Desa Tawiri dalam mengelola potensi lokal ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara pelestarian tradisi dan pemberdayaan ekonomi dapat menciptakan kemandirian finansial bagi masyarakat desa tanpa harus meninggalkan akar budaya mereka.




