Peternak Ayam Menjerit, Harga Anjlok Parah!

Author Image

Hadi Wibawa

6 November 2026, 02:46 WIB

redaksibengkulu.co.id – Kondisi memprihatinkan tengah menyelimuti sektor peternakan rakyat di Indonesia. Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO) melaporkan bahwa harga jual ayam hidup (live bird) di tingkat kandang merosot tajam hingga berada jauh di bawah biaya produksi, yang memicu kerugian beruntun bagi para peternak.

Koordinator PERMINDO Jawa Timur, Barry Saripudin, mengungkapkan bahwa selama hampir tiga pekan terakhir, harga ayam di kandang hanya berkisar antara Rp 17.000 hingga Rp 18.000 per kilogram. Angka ini sangat kontras dengan Harga Pokok Produksi (HPP) yang mencapai Rp 22.500 hingga Rp 23.000 per kilogram.

Peternak Ayam Menjerit, Harga Anjlok Parah!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Kami sedang berada di ambang kebangkrutan. Setiap kilogram ayam yang terjual, kami mengalami kerugian sekitar Rp 5.500 hingga Rp 6.000. Biaya operasional terus membengkak, namun harga jual tidak mampu menutup modal," ujar Barry dalam keterangan resminya, Kamis (5/11/2026).

Beban berat peternak diperparah oleh tingginya harga komponen pakan. Saat ini, harga pakan di tingkat kandang menyentuh Rp 10.000 per kilogram, dengan harga jagung di angka Rp 7.800-Rp 8.000 per kilogram, serta soybean meal (SBM) impor yang juga berada di level Rp 10.000 per kilogram. Ketidakseimbangan antara melimpahnya pasokan dengan rendahnya daya beli masyarakat menjadi pemicu utama anjloknya harga ini.

Senada dengan hal tersebut, Agus Sunarto dari Peternak Curug Maju Bersama menyebutkan bahwa fenomena ini diperburuk oleh tingginya harga bibit ayam atau DOC yang sudah melampaui Rp 8.800 per ekor. "Kondisi ini sangat buruk. HPP kami di angka Rp 23.000, sementara pasar hanya mau membeli di harga Rp 17.500 per kilogram," keluhnya.

Langkah Intervensi Pemerintah

Menanggapi krisis ini, Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) bergerak cepat melakukan stabilisasi harga. Salah satu strategi utamanya adalah melalui penyerapan hasil produksi oleh BUMN Pangan, yakni Holding ID FOOD dan Perum Bulog.

Sinergi ini melibatkan dana sebesar Rp 30 miliar, di mana masing-masing lembaga mengalokasikan Rp 15 miliar untuk menyerap produk peternak, khususnya bagi kelompok mikro dan kecil serta koperasi.

Direktur Utama ID FOOD, Ghimoyo, menjelaskan bahwa program penyerapan ini telah berjalan sejak akhir Oktober 2026. Hingga awal November, ID FOOD tercatat telah menyerap sekitar 153,6 ton telur ayam ras dengan nilai transaksi mencapai Rp 3,433 miliar.

"Kami berkomitmen untuk terus mengoptimalkan sisa alokasi dana sebesar Rp 11,567 miliar guna memberikan kepastian pasar bagi peternak. Fokus kami adalah wilayah yang mengalami tekanan harga hebat, seperti Pulau Jawa, Lampung, dan Sulawesi Selatan," tegas Ghimoyo.

Dalam pelaksanaannya, pemerintah menetapkan harga pembelian minimal sebesar Rp 24.000 per kilogram untuk menjaga stabilitas pendapatan peternak. Selain penyerapan, pemerintah juga memperkuat jaringan distribusi agar produk peternak dapat tersalurkan dengan cepat ke pasar guna menghindari kerusakan komoditas yang memiliki masa simpan terbatas.

Related Post