JAKARTA – Redaksibengkulu.co.id melaporkan bahwa sektor petrokimia nasional kini tengah berada dalam situasi siaga akibat gelombang masif produk impor asal China yang membanjiri pasar domestik. Sebagai negara dengan basis konsumen terbesar di Asia Tenggara, Indonesia kini menjadi sasaran utama bagi produk-produk petrokimia dari Negeri Tirai Bambu tersebut.
Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat Chandra Asri Group, Suryandi, menjelaskan bahwa fenomena banjirnya produk ini dipicu oleh kondisi kelebihan kapasitas (overcapacity) di industri domestik China. Kondisi tersebut diperparah dengan tidak seimbangnya pasokan dengan permintaan di dalam negeri China akibat dinamika pasar global yang tidak menentu.

"Kelebihan pasokan ini tidak diimbangi dengan permintaan (demand) yang kuat di China. Akibatnya, mereka harus mengalihkan stok tersebut ke pasar luar, terutama ke kawasan Asia Tenggara," ungkap Suryandi dalam sebuah diskusi media di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Also Read
Penurunan pertumbuhan ekonomi China pasca-pandemi, yang kini hanya berada di angka 5-6% dibandingkan era pra-pandemi yang mencapai 7-8%, turut memperburuk arus perdagangan dunia. Dampak paling nyata dirasakan oleh produsen lokal, khususnya pada komoditas Polipropilena (PP) dan Polietilena (PE).
Suryandi menambahkan, produk China memiliki daya saing harga yang sangat agresif karena didukung penuh oleh subsidi pemerintah mereka serta akses bahan baku yang lebih ekonomis. Selain itu, penggunaan teknologi ethane yang tidak bergantung pada nafta membuat biaya produksi mereka jauh lebih rendah.
"Produk dari China sangat kompetitif karena mereka mendapatkan dukungan pemerintah dan bahan baku murah. Mereka juga mengembangkan teknologi hulu menggunakan ethane untuk memproduksi PE, sehingga harga mereka sangat menekan pasar," jelasnya.
Menghadapi tantangan berat ini, Chandra Asri telah menyiapkan strategi pertahanan untuk memperkuat ketahanan industri nasional melalui tiga langkah utama:
- Keandalan Operasi: Memastikan keberlanjutan produksi dan mencegah terjadinya penghentian operasional yang tidak terencana (unplanned shutdown), guna menjamin pasokan bahan baku bagi industri hilir dalam negeri.
- Diversifikasi Bisnis: Melakukan transformasi dengan merambah sektor baru di luar petrokimia, seperti energi, infrastruktur terintegrasi, dan solusi mobilitas untuk mengurangi risiko fluktuasi pasar.
- Proyek Strategis: Mempercepat pembangunan pabrik Chlor-Alkali / Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon guna mendukung kebutuhan industri ekstraksi nikel dan alumina nasional.
Lebih lanjut, Suryandi menekankan pentingnya proteksi dan dukungan berkelanjutan dari pemerintah agar industri hulu nasional tidak tumbang oleh persaingan dari negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand, maupun Vietnam.
"Hingga saat ini, Indonesia masih mengalami defisit atau net import sekitar 40% hingga 50% untuk produk tertentu. Kami sangat membutuhkan dukungan pemerintah agar industri dalam negeri mampu mandiri dan tidak kalah bersaing di rumah sendiri," tutupnya.




