redaksibengkulu.co.id – Langkah strategis diambil oleh Pertamina EP Rantau Field dalam memperkuat ketahanan energi nasional melalui pengeboran lima sumur baru di wilayah Aceh Tamiang. Langkah berani ini dilakukan di tengah upaya pemulihan intensif pascabencana banjir yang sempat melumpuhkan operasional di wilayah tersebut.
Field Manager (FM) Pertamina EP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah, mengungkapkan bahwa perusahaan telah berhasil mengembalikan performa produksi minyak ke angka stabil, yakni sebesar 1.700 barel per hari. Keberhasilan ini dicapai hanya dalam waktu empat bulan melalui serangkaian program pemulihan yang terukur.

"Meski masih dalam fase pemulihan pascabanjir, kami tetap bergerak melakukan pengeboran sumur baru guna menemukan cadangan migas tambahan sekaligus menjaga stabilitas produksi. Tajak sumur baru ini merupakan langkah krusial bagi ketersediaan energi nasional," tegas Tomi dalam keterangannya, Minggu (11/10/2026).
Also Read
Secara teknis, lima sumur baru tersebut tersebar di dua lokasi utama. Sumur RNT DZ-51 dan RNT DZ-52 yang berlokasi di Desa Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, dibor menggunakan Rig APS-752 dengan kedalaman mencapai 1.145 MMD dan 1.037 MMD. Sementara itu, tiga sumur lainnya yakni RNT DZ-11, RNT DZ-23A, dan RNT DZ-33 berada di Desa Paya Meta, dengan sumur RNT DZ-11 telah mencapai kedalaman 1.132 MMD.
Tomi menjelaskan bahwa pemulihan pascabencana dilakukan melalui empat tahapan sistematis: fase darurat (emergency), reaktivasi (reactivation), pemulihan (recovery), hingga keberlanjutan (sustainability). Fokus utama pada tahap awal adalah pemenuhan kebutuhan dasar seperti air bersih, listrik, dan kesehatan, sebelum akhirnya mengaktifkan kembali fasilitas produksi.
Salah satu inovasi kunci yang dilakukan tim adalah mengatasi kerusakan berat pada High Pressure Compressor Station (HPCS) akibat banjir. Alih-alih menunggu perbaikan HPCS yang memakan waktu, tim melakukan modifikasi pada SP-5 agar mampu mengambil alih fungsi pasokan gas untuk pembangkit listrik. Inovasi ini terbukti efektif menggerakkan kembali seluruh peralatan produksi yang sempat mati total.
"Berkat simplifikasi fasilitas dan semangat inovasi, produksi yang sempat menyentuh angka nol kini kembali naik. Bahkan pada Mei dan Agustus 2026, produksi sempat melonjak hingga 2.000 barel per hari," tambahnya.
Kecepatan pemulihan ini mendapat apresiasi tinggi dari SKK Migas, yang memberikan penghargaan kepada Pertamina EP Rantau Field pada April 2026 lalu. Keberhasilan ini juga tidak lepas dari solidaritas antarwilayah operasi Pertamina, di mana personil dari Pangkalan Susu, Jambi, Lirik, hingga Ramba turut turun tangan membantu proses pemulihan.
Dalam menjalankan operasionalnya, Pertamina EP Rantau Field yang merupakan bagian dari PHR Zona 1 ini tetap mengedepankan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Seluruh kru di lapangan dipastikan telah mengantongi sertifikasi keselamatan kerja (HSSE) yang ketat guna menjamin keamanan operasional pengeboran.




