Produktivitas Pelindo Melejit 70%!

Author Image

Hadi Wibawa

3 Oktober 2026, 05:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id, Jakarta — Lima tahun setelah melakukan langkah strategis merger, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo mencatatkan pencapaian gemilang dalam transformasi pengelolaan terminal peti kemas. Melalui standardisasi layanan dan penguatan kapasitas, perusahaan pelabuhan ini berhasil mendongkrak produktivitas hingga lebih dari 70 persen.

Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, mengungkapkan bahwa transformasi yang dimulai sejak 2021 ini telah memberikan dampak nyata bagi efisiensi operasional pelanggan. Peningkatan produktivitas ini secara langsung memangkas waktu singgah kapal (port stay) dan waktu tunggu barang (cargo stay) di pelabuhan.

Produktivitas Pelindo Melejit 70%!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Alhamdulillah, produktivitas meningkat lebih dari 70 persen. Dengan meningkatnya produktivitas, pelanggan mendapatkan nilai yang lebih baik dan menjadi lebih efisien karena waktu singgah kapal jauh berkurang," ujar Widyaswendra dalam keterangan tertulisnya.

Widyaswendra menjelaskan bahwa perbaikan ini terlihat nyata di hampir seluruh dari 32 terminal peti kemas yang dikelola. Salah satu kunci keberhasilannya adalah optimalisasi peralatan melalui sistem manajemen yang lebih terintegrasi. Dengan merger, Pelindo kini mampu melakukan mobilisasi alat dari terminal yang memiliki kelebihan kapasitas ke terminal lain yang lebih membutuhkan.

"Beberapa terminal sebelumnya memiliki kendala terkait alat. Melalui merger, kami melakukan modernisasi dan mendistribusikan alat ke terminal yang membutuhkan," tambahnya.

Dampak positif dari tingginya produktivitas ini juga membuka peluang bisnis baru, termasuk pengembangan rute-rute pelayaran baru. Fokus utama Pelindo tetap pada penguatan ekosistem maritim guna menekan biaya logistik nasional agar lebih kompetitif.

Dukungan dan Catatan dari Industri

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners’ Association (INSA), Carmelita Hartoto, memberikan apresiasi atas perbaikan layanan yang dilakukan Pelindo. Menurutnya, perusahaan pelayaran telah merasakan dampak positif dari perbaikan layanan yang dilakukan secara berkelanjutan di berbagai wilayah.

Namun, Carmelita menekankan pentingnya konsistensi layanan dan pembaruan peralatan bongkar muat. Hal ini krusial untuk memberikan kepastian jadwal bagi perusahaan pelayaran, terutama di tengah tantangan ekonomi global.

"Kami berharap perbaikan atau penggantian peralatan bongkar muat dapat segera dilakukan agar port stay semakin optimal. Kepastian layanan sangat penting bagi pelaku usaha untuk merencanakan operasional kapal," kata Carmelita.

Ia juga menyoroti tantangan pelemahan nilai tukar rupiah yang meningkatkan biaya operasional dan investasi industri pelayaran. Oleh karena itu, ia berharap pemerintah turut menjaga struktur biaya industri agar tetap kompetitif.

Tantangan Homogenitas Layanan

Meski menunjukkan tren positif, pengamat supply chain dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Raja Oloan Saut Gurning, memberikan catatan terkait konsistensi layanan di lapangan. Menurutnya, meskipun sistem operasi seperti Terminal Operating System (TOS) sudah terstandarisasi secara terpusat, kualitas layanan antar-terminal belum sepenuhnya seragam secara nasional.

Saut menjelaskan bahwa perbedaan kondisi geografis, seperti wilayah sungai pasang surut, serta perbedaan kualitas peralatan bongkar muat, membuat kinerja tiap terminal tidak bisa disamakan begitu saja.

"Tantangannya adalah memastikan standardisasi ini menghasilkan kualitas layanan yang konsisten di lapangan. Kita masih melihat adanya segmented consistency, di mana konsistensi baru terjadi di dalam tingkatan tertentu, namun belum homogen secara nasional," jelas Saut.

Ia menyarankan agar Pelindo terus memperkuat ketersediaan dan keandalan peralatan (equipment availability) di seluruh terminal, terutama di wilayah luar Pulau Jawa, guna memastikan produktivitas dapat dirasakan secara merata di seluruh Indonesia.

Related Post