JAKARTA – Redaksibengkulu.co.id melaporkan bahwa PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) tengah mempertimbangkan langkah strategis di tengah fluktuasi pasar modal domestik maupun global. Manajemen perusahaan saat ini sedang melakukan kajian mendalam terkait opsi pembelian kembali saham atau share buyback guna menjaga stabilitas nilai perusahaan.
Langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen perseroan dalam memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi seluruh pemegang saham (shareholders) serta pemangku kepentingan (stakeholders). Eko Prayitno, selaku Corporate Secretary Division Head PTBA, menjelaskan bahwa pihaknya terus memantau secara ketat kondisi makroekonomi, tren industri energi, serta dinamika pasar modal yang sedang berlangsung.

"Kami menyadari pentingnya merespons dinamika pasar secara bijak. Saat ini, manajemen tengah mengkaji berbagai opsi strategis, termasuk potensi buyback saham. Setiap keputusan akan diambil dengan prinsip kehati-hatian yang terukur, mengedepankan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance), serta tetap patuh pada regulasi yang berlaku," ujar Eko dalam keterangan tertulisnya, Jumat (23/10/2026).
Also Read
Keputusan strategis ini didorong oleh kondisi fundamental perusahaan yang sangat kuat. Meski industri energi global penuh tantangan, PTBA justru mencatatkan lonjakan kinerja keuangan yang fantastis pada paruh pertama tahun ini.
Berdasarkan data kinerja, pada Semester I 2026, PTBA berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp22,03 triliun, atau tumbuh 8% secara tahunan (year-on-year). Yang lebih mencolok, laba bersih perseroan melonjak tajam hingga 218% (yoy) dengan perolehan mencapai Rp2,65 triliun.
Peningkatan performa ini merupakan hasil dari pemulihan operasional pada kuartal II, penguatan volume ekspor, serta kenaikan harga jual rata-rata batu bara. Secara operasional, PTBA memproduksi 19,45 juta ton batu bara dengan total penjualan mencapai 21,10 juta ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 10,33 juta ton dialokasikan untuk pasar ekspor, naik sekitar 5% dibanding tahun lalu.
Sementara itu, untuk mendukung ketahanan energi nasional, PTBA menyalurkan 10,77 juta ton atau sekitar 51% dari total penjualan untuk kebutuhan domestik.
Eko menekankan bahwa setiap langkah korporasi, termasuk rencana buyback, akan tetap mempertimbangkan aspek likuiditas, kebutuhan modal kerja, serta rencana pengembangan bisnis jangka panjang. Fokus utama perusahaan tetap pada efisiensi biaya, kinerja operasional yang solid, serta agenda transformasi energi nasional.
"Jika hasil kajian memutuskan untuk mengeksekusi rencana buyback atau tindakan strategis lainnya, PTBA akan segera menyampaikan keterbukaan informasi secara resmi sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI)," pungkasnya.




