Rahasia Bisnis Laris: Kelola Lingkungan!

Author Image

Hadi Wibawa

13 Oktober 2026, 20:25 WIB

JAKARTA – Melansir laporan dari redaksibengkulu.co.id, Menteri Lingkungan Hidup (LH), Mohammad Jumhur Hidayat, memberikan peringatan sekaligus edukasi penting bagi para pelaku usaha di Indonesia. Ia menegaskan bahwa pengeluaran untuk pengelolaan lingkungan hidup tidak boleh dipandang sebagai beban finansial, melainkan sebuah investasi strategis guna memperkuat daya saing di pasar internasional.

Pernyataan tegas tersebut disampaikan Jumhur saat menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Investasi, Hilirisasi, Energi, dan Lingkungan Hidup yang diselenggarakan oleh Kadin Indonesia di The Langham, Jakarta Selatan, pada Selasa (13/10/2026).

 Rahasia Bisnis Laris: Kelola Lingkungan!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Menurut Jumhur, standar dunia saat ini telah berubah. Kualitas produk semata tidak lagi cukup untuk memenangkan persaingan. Kini, proses produksi yang ramah lingkungan menjadi parameter utama yang dilihat oleh pasar global.

"Pasar global tidak lagi membeli produk yang tidak memberikan kepercayaan. Investor mencari kepastian, lembaga keuangan fokus pada manajemen risiko, dan masyarakat memberikan penilaian melalui aspek lingkungan. Jadi, pengelolaan lingkungan bukanlah biaya, melainkan investasi untuk memenangkan persaingan global," ujar Jumhur.

Ia juga menekankan prinsip bahwa tata kelola lingkungan yang baik adalah cerminan dari tata kelola bisnis yang sehat (Good environmental governance is good business governance). Perusahaan yang berkomitmen pada keberlanjutan akan mendapatkan lima keuntungan utama:

Pertama, perluasan akses pasar ekspor. Banyak negara maju kini menetapkan standar keberlanjutan yang ketat dalam rantai pasok mereka. Perusahaan yang patuh lingkungan akan lebih mudah menembus pasar internasional tersebut.

Kedua, kemudahan akses pembiayaan. Saat ini, perbankan dan investor global semakin mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam keputusan mereka. Perusahaan dengan kebijakan hijau akan mendapatkan biaya modal yang lebih kompetitif.

Ketiga, peningkatan efisiensi produksi. Melalui penghematan energi, penggunaan air yang bijak, serta penerapan ekonomi sirkular dalam pengolahan limbah, perusahaan justru dapat menekan biaya operasional dalam jangka panjang.

Keempat, minimalisir konflik sosial. Dengan menjaga kelestarian alam, perusahaan akan mendapatkan kepercayaan dan dukungan dari masyarakat sekitar, yang menjadi modal penting bagi stabilitas investasi.

Terakhir, pengurangan risiko hukum dan mitigasi. Jumhur mengingatkan bahwa biaya yang timbul akibat sengketa lingkungan, penghentian operasional, hingga kerusakan reputasi jauh lebih mahal dibandingkan biaya pencegahan. Oleh karena itu, kepatuhan terhadap aturan lingkungan adalah bentuk perlindungan nyata bagi kelangsungan bisnis itu sendiri.

Related Post