Revolusi BBM! RI Siap Hapus Impor Bensin dengan E50!

Author Image

Hadi Wibawa

22 September 2026, 00:46 WIB

Redaksibengkulu.co.id, Jakarta – Sebuah gebrakan signifikan dalam sektor energi Indonesia tengah disiapkan pemerintah. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan rencana ambisius untuk mengembangkan bensin dengan campuran etanol hingga 50%, atau dikenal sebagai E50. Inisiatif ini, yang lahir dari diskusi intensif di Dewan Energi Nasional (DEN), bertujuan utama mencari alternatif energi guna memutus ketergantungan Indonesia pada impor bahan bakar minyak (BBM). Program E50 ini juga diposisikan sebagai langkah lanjutan dari keberhasilan Biodiesel 50% (B50) yang terbukti efektif menekan impor solar.

Bahlil menjelaskan, gagasan E50 ini muncul setelah melihat kesuksesan program B50 yang menjadikan Indonesia pelopor di dunia. "Berangkat dari keberhasilan itu, dan kita pertama kali di dunia. Lalu kemudian dalam rapat DEN itu mencari alternatif, apakah bisa kita kembangkan untuk menjadi E50," terang Bahlil saat berbicara di Balai Sudirman, Jakarta, Senin (21/9/2026). Inspirasi juga datang dari negara lain seperti Brasil yang telah menerapkan E100, serta beberapa negara bagian di Amerika Serikat yang juga menggunakan E100.

Revolusi BBM! RI Siap Hapus Impor Bensin dengan E50!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Lebih jauh, Bahlil optimis bahwa implementasi E50 akan membawa Indonesia pada kemandirian energi, khususnya dalam hal bensin. Ia memproyeksikan, jika program ini berhasil direalisasikan, Indonesia tidak perlu lagi mengimpor produk bensin jadi. "Kalau ini mampu kita lakukan ke E50, Insyaallah, target kita, kita tidak lagi melakukan impor bensin yang jadi, produk jadi," tegas Bahlil. Selain mengurangi ketergantungan impor, program ini juga digadang-gadang mampu menciptakan lapangan kerja baru dan memacu pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah. Visi ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional secara signifikan.

Meski demikian, Bahlil belum dapat merinci secara pasti kapan target bebas impor bensin jadi melalui E50 ini akan tercapai. Saat ini, pemerintah, melalui Kementerian ESDM dan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas), sedang intensif menyusun peta jalan (roadmap) implementasi pencampuran etanol untuk bensin. "Kapan ini dilakukan? Ini kan ada roadmap-nya. Kan baru diputuskan dalam DEN kemarin. Tugas kami sekarang akan merancang dengan Dirjen Migas untuk merancang roadmap-nya," jelasnya. Gambaran awal roadmap menunjukkan target penerapan E10 pada tahun 2027, diikuti peningkatan menjadi E20 pada 2028, dan secara bertahap menuju E50.

Namun, Bahlil menekankan satu poin krusial: keberhasilan program ini sangat bergantung pada kapasitas industri bioetanol di dalam negeri. Ia mewanti-wanti agar implementasi E50 tidak justru mengalihkan ketergantungan dari impor bensin ke impor etanol. "Kita harus menyesuaikan dengan industri kita. Kita tidak mau menerapkan E10, E20, atau E50, tapi etanolnya diimpor dari luar, sama saja bohong," tegas Bahlil. Oleh karena itu, fokus utama adalah memaksimalkan pemanfaatan produksi etanol domestik demi mencapai kemandirian energi yang seutuhnya.

Related Post