Redaksibengkulu.co.id – Nilai tukar rupiah diprediksi akan terus tertahan di level tinggi dan sulit kembali menguat hingga akhir tahun 2026 mendatang. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius mengenai stabilitas ekonomi nasional serta potensi lonjakan biaya hidup yang harus dihadapi masyarakat luas.
Ekonom Senior dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, memproyeksikan bahwa kurs rupiah akan bergerak di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.100 selama kuartal keempat tahun ini. Menurutnya, pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor global, mulai dari kebijakan suku bunga tinggi oleh Bank Sentral AS (The Fed), fluktuasi harga minyak mentah dunia, hingga fenomena arus modal asing keluar (capital outflow) akibat laporan MSCI.

Meskipun Bank Indonesia (BI) dipastikan akan bergerak maksimal menggunakan berbagai instrumen seperti insentif lindung nilai (hedging) melalui swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk menstabilkan mata uang Garuda, namun upaya tersebut diprediksi sulit membawa rupiah kembali ke level Rp 17.000 per dolar AS.
Also Read
"BI akan berupaya keras agar rupiah tidak terpuruk terlalu dalam, namun untuk kembali ke bawah Rp 18.000 rasanya akan sangat sulit," ujar Tauhid dalam keterangannya.
Efek Domino bagi Ekonomi Domestik
Pelemahan rupiah ini diprediksi akan memicu efek berantai, salah satunya adalah kenaikan inflasi akibat imported inflation. Kenaikan harga barang-barang impor seperti besi, baja, hingga bahan kimia akan mendorong harga produk di pasar domestik ikut merangkak naik. Tauhid memperkirakan angka inflasi bisa menyentuh level 3,5 persen.
Selain itu, sektor energi dan transportasi akan menghadapi "pukulan ganda". Dengan harga minyak mentah dunia yang masih bertahan di atas US$ 105 per barel, beban negara dan perusahaan untuk membeli minyak dalam dolar AS semakin membengkak. Hal ini berisiko memicu kenaikan harga BBM nonsubsidi serta harga tiket pesawat akibat penyesuaian biaya avtur.
Beban Utang dan Daya Beli Masyarakat
Dampak negatif ini tidak hanya dirasakan konsumen, tetapi juga membebani korporasi. Perusahaan yang memiliki kewajiban utang dalam mata uang asing akan menghadapi beban pembayaran yang jauh lebih mahal seiring melemahnya rupiah.
Senada dengan hal tersebut, pengamat mata uang Lukman Leong menilai tren pelemahan ini bisa berlangsung dalam jangka panjang. Ia bahkan memproyeksikan rupiah bisa menyentuh level Rp 18.350 per dolar AS pada akhir 2026.
"Jika pelemahan ini berlangsung lama, tekanan tersebut pada akhirnya akan meningkatkan inflasi dan secara bertahap menggerus daya beli masyarakat," pungkas Lukman.



