Selangor Terpikat Teknologi Padi Banyuwangi!

Author Image

Hadi Wibawa

8 November 2026, 00:25 WIB

BANYUWANGI – Redaksibengkulu.co.id melaporkan bahwa inovasi sektor agrikultur di Kabupaten Banyuwangi kini tengah menjadi sorotan internasional. Keberhasilan daerah ini dalam mengelola padi biofortifikasi melalui metode pertanian rendah emisi (low carbon farming) berhasil menarik minat Pemerintah Negeri Selangor, Malaysia, untuk menjalin kolaborasi strategis.

Delegasi dari Selangor yang dipimpin langsung oleh Exco Pertanian Negeri Selangor, Datuk Izham bin Hashim, melakukan kunjungan kerja ke Banyuwangi guna meninjau secara langsung teknologi budidaya padi yang diterapkan. Kedatangan mereka disambut hangat oleh Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono, di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan.

Selangor Terpikat Teknologi Padi Banyuwangi!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Datuk Izham mengungkapkan kekagumannya terhadap sistem pengelolaan sawah di Banyuwangi yang terbukti mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan. Salah satu poin utama yang menjadi perhatian adalah kemampuan lahan di Banyuwangi yang dapat melakukan penanaman padi hingga tiga sampai empat kali dalam satu tahun.

"Kami datang ke Banyuwangi untuk mempelajari sektor pertanian, khususnya pembangunan dan manajemen persawahan di sini. Informasi mengenai intensitas tanam yang tinggi ini sangat menarik bagi kami," ungkap Izham dalam keterangannya, Sabtu (7/11/2026).

Ia menambahkan bahwa Selangor memiliki lahan persawahan seluas kurang lebih 18.000 hektare. Oleh karena itu, pihaknya ingin mengadopsi teknik dan metode dari Banyuwangi untuk mengoptimalkan lahan di Selangor melalui kerja sama antarwilayah.

Fokus utama kunjungan ini adalah mendalami penerapan pertanian rendah emisi, mulai dari manajemen lahan, efisiensi penggunaan pupuk, pemilihan benih unggul, hingga pola budidaya yang berkelanjutan. Namun, Izham menegaskan bahwa peluang kerja sama tidak hanya terbatas pada sektor pangan. Ia melihat potensi besar untuk berkolaborasi di bidang pariwisata, ekowisata, peternakan, hingga sektor perdagangan.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Bupati Mujiono menyambut positif inisiatif ini sebagai wadah pertukaran ilmu pengetahuan (knowledge sharing). Menurutnya, pertemuan ini diharapkan mampu memberikan wawasan baru bagi pengembangan pertanian di kedua wilayah.

"Mari kita saling belajar mengenai teknologi pertanian yang bisa diterapkan di negara masing-masing. Kami berharap ini menjadi langkah nyata dalam meningkatkan produktivitas pertanian," ujar Mujiono.

Sebagai informasi, pengembangan beras biofortifikasi di Banyuwangi merupakan hasil kolaborasi dengan Pandawa Agri Indonesia (PAI), sebuah perusahaan inovasi pertanian ramah lingkungan. Teknologi ini tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan melalui prinsip Low Carbon Agriculture, tetapi juga bertujuan meningkatkan kandungan gizi beras guna mendukung program pencegahan stunting.

Melalui pendekatan Teknologi Pendampingan PAI (PPAI), petani dibimbing melalui 10 tahapan budidaya untuk mengoptimalkan hasil panen sekaligus memperkuat ketahanan pangan terhadap dampak perubahan iklim. Pertemuan penting ini juga turut dihadiri oleh perwakilan National Farmers Organization (NAFAS) Malaysia serta CEO Pandawa Agri Indonesia, Kukuh Roxa Putra.

Related Post