Selat Hormuz Mendidih: Irak-Suriah Buka Jalur Rahasia!

Author Image

Hadi Wibawa

20 Juli 2026, 02:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id mengabarkan, di tengah memanasnya tensi geopolitik di Selat Hormuz, Irak dan Suriah mengambil langkah strategis dengan menghidupkan kembali jalur pipa minyak yang telah lama tidak beroperasi. Keputusan ini datang sebagai respons terhadap eskalasi ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, yang kembali memicu kekhawatiran akan gangguan logistik vital di jalur pelayaran global tersebut.

Penandatanganan kesepakatan penting ini berlangsung pada hari Jumat lalu, dalam sebuah pertemuan puncak Kamar Dagang di Washington yang secara khusus membahas potensi investasi AS di Irak. Menteri Energi AS, Chris Wright, memimpin proses bersejarah ini, disaksikan oleh CEO Basra Oil Company, Bassem Abdul Karim Nasr, dan CEO Syrian Petroleum Company, Youssef Qablawi.

Selat Hormuz Mendidih: Irak-Suriah Buka Jalur Rahasia!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Ada banyak peluang untuk mendorong perbaikan di Irak, meningkatkan produksi minyak, mengurangi ketergantungan pada negara-negara tetangga yang bermusuhan, serta menghadirkan kebebasan, kemakmuran, dan energi yang melimpah bagi bangsa Irak," ujar Wright, seperti dikutip Redaksibengkulu.co.id dari CNBC. Pernyataan ini menegaskan visi strategis di balik reaktivasi pipa, yakni untuk memperkuat kedaulatan energi Irak.

Menurut data dari Badan Informasi Energi AS (Energy Information Agency/EIA), jalur pipa ini membentang dari wilayah Kirkuk di Irak utara hingga pesisir Mediterania di Suriah, dengan kapasitas terpasang mencapai 700 ribu barel per hari. Jalur vital ini telah nonaktif sejak mengalami kerusakan parah akibat invasi AS ke Irak pada tahun 2003, menjadikannya sebuah infrastruktur yang kini dihidupkan kembali setelah lebih dari dua dekade.

Sebagai produsen minyak terbesar kedua di OPEC, Irak sangat rentan terhadap gejolak di Selat Hormuz. Negara ini sangat bergantung pada kota pelaburan Basra di Teluk Persia untuk menyalurkan minyaknya ke pasar global, mengingat terbatasnya opsi jalur pipa alternatif. Gangguan lalu lintas kapal tanker di selat tersebut secara langsung memukul perekonomian Irak.

Data OPEC menunjukkan, produksi minyak Irak merosot lebih dari 50%, mencapai sekitar 1,9 juta barel per hari pada bulan Juni, dibandingkan dengan 4,2 juta barel per hari pada Februari. Penurunan drastis ini terjadi seiring dengan meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, yang menyebabkan gangguan signifikan pada jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Melihat risiko yang terus membayangi, beberapa negara Teluk lainnya juga telah merencanakan ekspansi kapasitas jalur pipa mereka untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz. Uni Emirat Arab, misalnya, sedang membangun jalur pipa kedua menuju Pelabuhan Fujairah di Teluk Oman, yang berpotensi melipatgandakan kapasitas ekspornya di luar selat tersebut. Sementara itu, Arab Saudi tengah mempertimbangkan untuk memperluas jalur pipanya menuju Laut Merah dengan tambahan kapasitas 2 juta barel per hari. Kini, Irak dan Suriah mengikuti jejak serupa.

Namun, para analis mengingatkan bahwa meskipun jalur pipa ini dapat berfungsi sebagai langkah mitigasi terhadap risiko geopolitik di Selat Hormuz, hal tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan ancaman mendasar yang ditimbulkan oleh Iran terhadap infrastruktur energi di kawasan itu. "Masalahnya bukan pada jalur air tersebut. Masalahnya adalah Iran dapat menggunakan senjata untuk menyerang fasilitas pemuatan, stasiun pemompaan, stasiun akhir, terminal-terminal tersebut, serta unit penyimpanan dari jaringan pipa ini," jelas Bob McNally, pendiri Rapidan Energy, memperingatkan.

Related Post