redaksibengkulu.co.id, Jakarta – Pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara tengah menyiapkan langkah besar dengan melebur sejumlah perusahaan asuransi milik negara. Rencana merger besar-besaran ini ditargetkan rampung sepenuhnya pada akhir tahun 2026 guna menciptakan efisiensi di sektor asuransi pelat merah.
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa dari total 16 BUMN asuransi yang ada saat ini, nantinya akan dikonsolidasi menjadi hanya tiga entitas utama. Ketiga perusahaan tersebut akan dikelompokkan berdasarkan spesialisasi bisnisnya, yakni asuransi jiwa, asuransi umum, dan asuransi kredit.

"Proses merger asuransi sedang berjalan. Kami menargetkan proses ini bisa diselesaikan pada akhir tahun ini," ujar Dony saat ditemui di Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Also Read
Tiga Raksasa Menuju Satu Wadah
Dalam skema pembentukan Holding BUMN asuransi kredit dan penjaminan, tiga nama besar diprediksi akan masuk dalam pusaran merger ini, yakni PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo), PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), dan PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo). Meski demikian, hingga kini belum ada keputusan resmi mengenai perusahaan mana yang akan bertindak sebagai induk usaha (parent company).
Sebagai gambaran, Jamkrindo merupakan pemain utama dalam sektor penjaminan di Indonesia dengan cakupan produk mulai dari penjaminan KUR hingga KPR Sejahtera. Sementara itu, Jasindo memiliki sejarah panjang yang berakar dari nasionalisasi perusahaan asuransi era kolonial, yang kini fokus pada asuransi umum. Di sisi lain, Askrindo memiliki peran vital dalam pemberdayaan UMKM melalui penjaminan kredit perbankan.
Analisis Ahli: Jamkrindo Berpeluang Jadi Induk
Langkah konsolidasi ini dinilai sangat krusial oleh pengamat BUMN, Herry Gunawan. Menurutnya, merger ini bertujuan untuk menghentikan praktik "kanibalisme" antar-BUMN asuransi yang selama ini saling berebut ceruk pasar yang sama.
"Konsolidasi ini penting agar bisnis asuransi BUMN lebih efisien. Tidak boleh ada lagi sesama BUMN yang saling bersaing di pasar yang serupa," tegas Herry.
Terkait siapa yang paling layak memimpin holding baru ini, Herry menyarankan agar pemerintah memilih satu perusahaan sebagai survival company (perusahaan penyintas) yang kemudian akan menampung dua perusahaan lainnya. Ia melihat peran Indonesia Financial Group (IFG) sangat strategis untuk menjadi pengatur sekaligus pengawas agar fokus bisnis tetap terjaga.
Ketika ditanya mengenai kandidat terkuat, Herry menunjuk Jamkrindo dan Askrindo karena skala bisnis mereka yang masif. Namun, ia memberikan prediksi lebih spesifik.
"Jika harus memilih berdasarkan pengalaman dan ukuran bisnis yang paling besar, menurut hemat saya, Jamkrindo memiliki peluang lebih besar untuk menjadi induk usaha atau survival company dalam struktur baru ini," pungkasnya.




