redaksibengkulu.co.id – Pergerakan pasar modal Indonesia menunjukkan dinamika yang menarik pada penutupan perdagangan Rabu (4/11/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri sesi dengan penguatan tipis 0,32% ke level 4.919,77. Kenaikan ini didorong oleh performa positif sejumlah saham blue chip seperti BBCA yang melonjak 1,86%, ASII yang naik 3,16%, serta BBRI yang tumbuh 1,13%.
Meski demikian, kondisi pasar sebenarnya masih menunjukkan tantangan. Tercatat sebanyak 509 saham mengalami pelemahan, berbanding terbalik dengan 224 saham yang menguat. Fenomena ini mengindikasikan bahwa kenaikan indeks saat ini lebih bersifat rebound teknikal daripada pemulihan fundamental yang menyeluruh. Di sisi lain, investor asing tercatat melakukan pembelian bersih (net buy) senilai Rp264,64 miliar di pasar reguler.

Ekspansi Produksi Emas BRMS
Bumi Resources Minerals (BRMS) tengah menyiapkan langkah besar untuk mendongkrak kapasitas produksinya. Perusahaan tambang ini menargetkan produksi emas mencapai lebih dari 90.000 ons pada tahun 2027. Target ambisius ini akan didukung oleh operasional tambang emas bawah tanah yang direncanakan mulai berjalan pada semester II 2027.
Also Read
Keunggulan tambang bawah tanah ini terletak pada kadar emasnya yang mencapai rata-rata di atas 3,2 gram per ton, jauh lebih tinggi dibandingkan tambang terbuka saat ini yang hanya berkisar 1,5 g/t. Meski demikian, BRMS masih menghadapi tantangan pada laporan keuangan sembilan bulan pertama 2026, di mana laba bersih tercatat turun 36,85% menjadi US$23,94 juta akibat ketergantungan pada tambang terbuka berkadar rendah.
Lautan Luas Bangun Pabrik Baru
Di sektor industri dasar, Lautan Luas (LTLS) melalui anak usahanya, Lautan Natural Krimerindo (LNK), tengah mempercepat pembangunan fasilitas produksi liquid ingredients. Pabrik ini dirancang memiliki kapasitas hingga 40 juta liter per tahun dan ditargetkan beroperasi pada 2027.
Langkah ini merupakan upaya LTLS untuk menangkap peluang tren konsumsi produk sehat, seperti plant-based milk dan krimer cair. Untuk mendukung ekspansi ini, LTLS telah mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp200 miliar.
Suntikan Dana BIPP Melalui Private Placement
Sementara itu, Bhuwanatala Indah Permai (BIPP) sukses merampungkan aksi korporasi berupa penambahan modal melalui skema private placement. Melalui penerbitan 502,87 juta saham baru dengan harga Rp200 per saham, BIPP berhasil mengantongi dana segar sebesar Rp100,57 miliar.
Seluruh saham baru tersebut diserap oleh investor terafiliasi, yakni PT Gratamulia Pratama dan Safire Capital Pte. Ltd. Dana yang terkumpul akan dialokasikan untuk memperkuat struktur permodalan, kebutuhan modal kerja, serta pembiayaan belanja modal perusahaan maupun entitas anak. Pasca aksi ini, jumlah saham BIPP yang beredar kini meningkat menjadi 5,53 miliar saham.




