JAKARTA – Redaksibengkulu.co.id melaporkan bahwa PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) tengah bersiap melakukan langkah besar dalam ekspansi bisnisnya. Perusahaan energi panas bumi ini menargetkan penandatanganan perjanjian jual beli listrik atau Power Purchase Agreement (PPA) untuk proyek co-generation bersama PT PLN (Persero) pada Desember 2026 mendatang.
Proyek strategis co-generation ini direncanakan akan mengoptimalkan pengembangan pembangkit listrik di dua lokasi berbeda, yakni di wilayah Ulubelu, Lampung, dengan kapasitas 30 megawatt (MW), serta di Lahendong, Sulawesi Utara, sebesar 15 MW.

Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGEO, Edwil Suzandi, mengungkapkan bahwa seluruh rangkaian pembahasan mengenai PPA tersebut sebenarnya telah mencapai tahap final. Saat ini, pihak perusahaan hanya tinggal menunggu proses pemeriksaan dokumen terakhir sebelum dilakukan seremoni penandatanganan resmi.
Also Read
"Alhamdulillah, kami telah menyelesaikan seluruh rangkaian pembahasan PPA antara Pertamina dan PLN. Kami menargetkan proses ini rampung pada akhir tahun ini, tepatnya di bulan Desember," ujar Edwil dalam sesi konferensi pers di Jakarta, Rabu (4/11/2026).
Edwil menambahkan bahwa pencapaian ini merupakan momen bersejarah bagi perusahaan. Pasalnya, dalam kurun waktu lebih dari satu dekade, PGEO belum pernah mendapatkan kesepakatan PPA baru. Keberhasilan ini dianggap sebagai tonggak penting sekaligus kebanggaan bagi pertumbuhan bisnis perusahaan ke depan.
Terkait rincian harga jual beli listrik yang disepakati, pihak manajemen PGEO masih enggan membeberkan angka pastinya kepada publik. Namun, Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, memberikan jaminan bahwa nilai kontrak tersebut telah melalui perhitungan matang agar menguntungkan secara ekonomi bagi kedua belah pihak.
Kesepakatan harga ini juga dikabarkan melibatkan mekanisme joint dengan PLN untuk memastikan keberlanjutan proyek. "Nanti setelah PPA selesai didesain, kami akan memaparkan progres serta detail terkait hal ini kepada publik," tutupnya.




