JAKARTA – redaksibengkulu.co.id melaporkan bahwa geliat investasi dari Negeri Tirai Bambu semakin menguat di tanah air. Melalui momentum Business Gathering yang digelar di Jakarta Pusat pada Kamis (5/11), Kamar Dagang Hangzhou resmi memperkuat eksistensinya di Indonesia untuk menjajaki peluang kerja sama strategis, terutama di sektor teknologi dan ekonomi digital.
Langkah besar ini diinisiasi oleh PT Halimun Reka Mandiri, sebuah perusahaan nasional yang memiliki spesialisasi dalam menjembatani kemitraan bisnis antara Indonesia dan China. Fokus kerja sama ini mencakup spektrum industri yang luas, mulai dari manufaktur, pertahanan, pertambangan, hingga sektor teknologi tinggi.

Presiden Perhimpunan Pengusaha Hangzhou di Indonesia, Ye Daifeng, menjelaskan bahwa kehadiran organisasi ini bertujuan menjadi jembatan penghubung antara semangat kewirausahaan Hangzhou dengan potensi pasar Indonesia yang masif. Menurutnya, Hangzhou merupakan pusat inovasi global yang ingin menyalurkan keunggulan teknologinya ke pasar lokal.
Also Read
"Kami ingin menghubungkan keunggulan teknologi dan industri Hangzhou dengan sumber daya serta pasar Indonesia. Bagi kami, kepatuhan terhadap hukum di Indonesia adalah fondasi utama untuk keberlanjutan bisnis," ujar Ye Daifeng dalam sambutannya.
Lebih lanjut, Ye menekankan bahwa perhimpunan ini tidak hanya sekadar simbolis. Ada empat misi utama yang dibawa, yakni membuka akses pasar bagi pengusaha lokal ke China Selatan, memfasilitasi transfer teknologi canggih, mendorong investasi produktif yang menciptakan lapangan kerja, serta membantu kemudahan perizinan investasi bagi kedua belah pihak.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum Lembaga Kerja Sama Ekonomi, Sosial, dan Budaya Indonesia-China, Sudrajat, memberikan apresiasi tinggi atas langkah ini. Ia menyoroti betapa pesatnya perkembangan hubungan dagang kedua negara jika dibandingkan dengan sejarah masa lalu.
Sudrajat memaparkan bahwa hubungan ekonomi ini memiliki akar sejarah yang panjang sejak tahun 1980-an. Jika pada tahun 2006 nilai perdagangan Indonesia-Tiongkok masih berada di angka belasan miliar dolar, kini angkanya telah melonjak drastis hingga menembus US$ 168 miliar. Bahkan, target ambisius telah ditetapkan untuk mencapai angka US$ 200 miliar dalam waktu dekat.
"Kehadiran perhimpunan ini diharapkan menjadi motor penggerak, bukan hanya untuk sektor riil, tapi juga memperkuat kolaborasi di bidang digital intelligence economy dan transfer teknologi," tegas Sudrajat.
Ia juga berharap kolaborasi ini mampu meningkatkan kelas UMKM Indonesia. Sudrajat memimpikan UMKM lokal tidak hanya bergerak di sektor konsumsi, tetapi mampu merambah industri manufaktur komponen seperti suku cadang otomotif hingga perangkat elektronik (PCB) melalui pembelajaran teknologi dari Hangzhou.
Dengan masuknya Kamar Dagang Hangzhou, diharapkan tercipta ekosistem bisnis yang saling menguntungkan, di mana transfer pengetahuan dan peningkatan kualitas SDM lokal menjadi kunci utama pertumbuhan ekonomi di masa depan.




