Redaksibengkulu.co.id, Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) Republik Indonesia mengintensifkan upaya penguatan fondasi tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan memperluas wawasan melalui studi banding ke negara-negara yang telah sukses mengimplementasikan program serupa. Salah satu tujuan utama adalah Jepang, sebuah negara yang telah mengembangkan program makan bergizi di sekolah selama lebih dari satu abad, menjadikannya rujukan krusial bagi Indonesia.
Deputi Sistem dan Tata Kelola BGN, Prima Yosephine Berliana Tumiur Hutapea, menjelaskan bahwa pengalaman Jepang yang telah mengukir sejarah lebih dari satu abad dalam program makan sekolah, menjadi pembelajaran penting. Tujuannya adalah memahami bagaimana penyelenggaraan makan bagi siswa dapat diintegrasikan secara holistik dalam ekosistem pendidikan. "Pelatihan ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat secara langsung bagaimana program makan sekolah diselenggarakan di Jepang. Kami tidak hanya ingin mengkaji aspek penyediaan makanan, melainkan juga mendalami bagaimana kegiatan makan dapat dihubungkan dengan pendidikan pangan dan gizi bagi para siswa," ujar Prima dalam keterangannya, dikutip Redaksibengkulu.co.id.

Inti pembelajaran yang menarik perhatian adalah konsep "shokuiku", yakni pendidikan pangan dan gizi yang dikembangkan Jepang melalui pendekatan berbasis pengalaman. Dalam praktiknya, pendidikan ini tidak hanya disampaikan melalui materi di dalam kelas, tetapi juga terintegrasi dengan pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui kegiatan makan bergizi di sekolah. Prima menambahkan, pembelajaran semacam ini sangat vital untuk memperkaya perspektif dalam pengembangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia. Melalui pelatihan di Jepang, BGN mendorong penguatan kapasitas sumber daya manusia sekaligus menggali praktik terbaik yang relevan untuk membangun penyelenggaraan MBG yang semakin terintegrasi dengan pendidikan pangan dan gizi bagi anak-anak Indonesia.
Also Read
Dalam audiensi dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) pada Rabu (23/9) lalu, BGN menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian integral dari upaya mereka untuk memperluas wawasan dan kapasitas sumber daya manusia melalui pembelajaran dari pengalaman negara lain dalam menyelenggarakan program makan bergizi di sekolah. "Kami berharap peserta dapat membawa pulang pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan. Tentunya tidak seluruh praktik dapat diterapkan secara langsung, namun esensi dan pembelajarannya dapat kita kaji untuk melihat relevansinya dengan kebutuhan dan karakteristik penyelenggaraan MBG di Indonesia," tutur Prima.
Melalui pelatihan tersebut, BGN terus membuka ruang pembelajaran dan pertukaran pengalaman untuk mendukung pengembangan penyelenggaraan MBG secara berkelanjutan, termasuk dalam memperkuat keterkaitan antara pemenuhan gizi dan pendidikan bagi peserta didik.
Gandeng JICA untuk Pilot Proyek Inovatif
BGN secara aktif menggandeng Japan International Cooperation Agency (JICA) dalam mengembangkan gagasan MBG-JICA Pilot. Upaya ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan pendekatan shokuiku dalam memperkaya pengalaman Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam rancangan MBG-JICA Pilot, sejumlah area menjadi perhatian utama untuk dikaji. Di antaranya adalah strategi pengurangan sampah dan sisa makanan, peningkatan proses pengiriman dan penyajian makanan, penguatan keterlibatan siswa dalam kegiatan makan di sekolah, serta pendidikan pangan dan gizi yang komprehensif.
Pilot proyek ini dirancang melalui dua komponen yang saling melengkapi, yakni Shokkan Trial di tingkat Satuan Pelaksana Penyedia Gizi (SPPG) dan kegiatan Shokuiku di tingkat sekolah. Melalui Shokkan Trial, pembelajaran diarahkan pada pengalaman di tingkat penyediaan layanan makanan, sedangkan Shokuiku Activities di sekolah memberikan ruang untuk memperkuat pengalaman siswa dalam memahami makanan dan gizi.
Menurut Prima, kedua pendekatan tersebut dapat memberikan perspektif yang lebih menyeluruh karena menghubungkan proses penyediaan makanan dengan pengalaman siswa sebagai penerima manfaat. "Kami ingin melihat keterhubungan antara apa yang terjadi di tingkat SPPG dengan pengalaman anak ketika menerima dan mengonsumsi makanan di sekolah. Dari sana, kita dapat mempelajari aspek mana yang dapat mendukung peningkatan kualitas layanan sekaligus memperkuat edukasi pangan dan gizi," tambah Prima.
Pengembangan MBG-JICA Pilot juga memberikan ruang untuk mengkaji bagaimana penyelenggaraan makan sekolah dapat mendorong keterlibatan siswa. Aspek tersebut mencakup pengalaman siswa dalam kegiatan makan, pemahaman mengenai makanan yang dikonsumsi, serta kesadaran terhadap proses dan orang-orang yang berada di balik penyediaan makanan sekolah. "Harapannya, pembelajaran dari Jepang dapat menjadi referensi untuk terus mengembangkan MBG sesuai dengan konteks Indonesia. Kita ingin memastikan bahwa pengalaman yang diperoleh siswa melalui MBG juga dapat memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai pangan dan gizi," pungkas Prima.
Melalui kerja sama strategis dengan JICA, BGN terus membuka ruang pembelajaran dan pertukaran pengalaman untuk mendukung pengembangan MBG, baik dari sisi penyelenggaraan layanan maupun penguatan pendidikan pangan dan gizi bagi peserta didik di seluruh Indonesia.




