Redaksibengkulu.co.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, secara tegas menyerukan publik untuk tidak perlu risau dengan proyeksi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2025 yang diperkirakan mendekati angka 3%. Menurutnya, kondisi ini masih dalam batas aman, terutama jika dibandingkan dengan situasi fiskal negara-negara lain yang justru menunjukkan defisit jauh lebih tinggi. Pernyataan menenangkan ini disampaikan Airlangga dalam acara Business Outlook Indonesia Business Council (IBC) di Hotel Mulia Senayan, Jakarta Selatan, pada Rabu (14/1/2026).
Data menunjukkan, defisit APBN Republik Indonesia untuk tahun 2025 diproyeksikan mencapai Rp 695,1 triliun, atau setara dengan 2,92% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini, menurut Airlangga, bukanlah sesuatu yang harus dikhawatirkan secara berlebihan. "Jangan khawatir tentang defisit anggaran 3%. Negara lain dua kali lipat dan mereka tidak khawatir. Jadi mengapa kita harus khawatir tentang hal itu?" tegas Airlangga, membandingkan kondisi Indonesia dengan perspektif global.
Pemerintah, lanjut Airlangga, telah matang memperhitungkan segala potensi risiko ekonomi yang mungkin muncul di masa mendatang, baik dari fluktuasi nilai tukar rupiah maupun dinamika di pasar modal. Oleh karena itu, ia menyatakan optimisme tinggi terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. Bahkan, lembaga keuangan internasional sekelas International Monetary Fund (IMF) pun turut memandang positif arah perekonomian Tanah Air.

Related Post
"Tidak ada risiko yang belum kita perhitungkan, baik dalam nilai tukar rupiah maupun di pasar saham. Jadi, ke depannya, saya pikir kita harus optimis. Akan ada banyak kabar baik yang akan datang, dan saya pikir tren global, termasuk IMF, cukup optimis terhadap ekonomi Indonesia," imbuhnya, memberikan jaminan stabilitas dan prospek cerah.
Sebagai informasi, defisit APBN terjadi ketika total belanja negara melebihi pendapatan yang berhasil dikumpulkan. Sepanjang tahun 2025, pendapatan negara tercatat sebesar Rp 2.756,3 triliun atau 91,7% dari target APBN, sementara belanja negara terealisasi sebesar Rp 3.451,4 triliun atau 95,3% dari APBN.
Sebelumnya, pada Jumat (9/1/2026), Airlangga juga sempat menekankan bahwa prioritas utama pemerintah saat ini adalah mendorong laju pertumbuhan ekonomi. Hal ini dikarenakan pertumbuhan ekonomi memiliki korelasi langsung dengan upaya penciptaan lapangan kerja. "Defisitnya masih aman, masih di bawah 3%. Yang paling penting kita mengejar pertumbuhan karena pertumbuhan kan kaitannya langsung terhadap employment, penciptaan lapangan kerja, jadi itu yang kita dorong," pungkas Airlangga kepada awak media di kantornya, Jakarta Pusat.









Tinggalkan komentar