Terobosan Energi! Sisa Panas Bumi Hasilkan 45 MW Listrik!

Author Image

Hadi Wibawa

22 Agustus 2026, 14:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id melaporkan, sebuah langkah strategis diambil untuk memperkuat kemandirian energi nasional. PLN Indonesia Power (PLN IP) dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) berkolaborasi mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) berkapasitas total 45 megawatt (MW). Inisiatif ini unik karena memanfaatkan panas sisa dari fluida panas bumi (brine) yang sebelumnya belum termanfaatkan dari pembangkit yang sudah beroperasi. Kesepakatan penting ini ditandai dengan penandatanganan Letter of Intent (LoI) dalam rangkaian The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC).

Dua proyek utama yang menjadi fokus adalah Ulubelu Binary Bottoming Unit di Lampung dengan kapasitas 30 MW dan Lahendong Binary Bottoming Unit di Sulawesi Utara yang akan menyumbang 15 MW. Penandatanganan LoI tersebut secara resmi dilakukan oleh Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, dan Direktur Utama PGE, Ahmad Yani.

Terobosan Energi! Sisa Panas Bumi Hasilkan 45 MW Listrik!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Penerapan teknologi bottoming unit menjadi kunci dalam pengembangan ini. Teknologi inovatif ini memungkinkan pemanfaatan panas sisa dari fluida panas bumi (brine) yang sebelumnya terbuang, mengubahnya menjadi energi listrik tambahan. Keunggulan utamanya adalah peningkatan kapasitas pembangkitan dari lapangan panas bumi yang sudah ada, tanpa perlu membuka Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) baru. Lebih jauh, kolaborasi strategis ini berpotensi mengembangkan kapasitas hingga total 230 MW di masa mendatang.

Bernadus Sudarmanta, Direktur Utama PLN Indonesia Power, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan upaya optimalisasi potensi panas bumi Indonesia yang melimpah. "Melalui kolaborasi antara PLN Indonesia Power dan PGE di Ulubelu serta Lahendong, kami bertekad untuk memaksimalkan potensi ini menjadi sumber energi bersih yang tidak hanya andal, tetapi juga esensial dalam memperkuat kemandirian energi nasional," ungkap Bernadus. Ia menambahkan bahwa sinergi lintas sektor—melibatkan PLN, PLN Indonesia Power, PGE, pemerintah, investor, dan seluruh pemangku kepentingan industri—adalah kunci untuk mempercepat realisasi pembangkit energi bersih yang berkelanjutan.

Senada, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menekankan pentingnya mengubah potensi panas bumi menjadi proyek pembangkit listrik konkret. "Potensi panas bumi yang luar biasa besar di Indonesia tidak boleh hanya menjadi angka di atas kertas. Energi ini harus diwujudkan menjadi listrik yang bermanfaat bagi masyarakat, menggerakkan roda ekonomi, dan memperkokoh kemandirian energi bangsa," tegas Bahlil. Ia juga menggarisbawahi bahwa kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha adalah fondasi utama. "Pemerintah tidak dapat bergerak sendiri, demikian pula dunia usaha. Sinergi antara regulator, PLN, pengembang, dan seluruh pemangku kepentingan akan mengoptimalkan kekayaan panas bumi Indonesia menjadi energi bersih yang andal, membentuk kekuatan energi masa depan," imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi menyoroti karakteristik panas bumi yang mampu menyediakan pasokan listrik secara berkelanjutan. "Pengalaman dari Kamojang membuktikan bahwa panas bumi bukan sekadar sumber energi, melainkan warisan energi yang terus hidup. Setelah seratus tahun sejak pengeboran pertama pada 1926, uapnya masih mengalir dan terus memberikan manfaat. Ini menunjukkan bahwa geotermal memiliki potensi besar sebagai energi bersih yang andal, berkelanjutan, dan krusial dalam mewujudkan kemandirian energi Indonesia," jelas Eniya.

Related Post