TERUNGKAP! Gas Masela: Pupuk, PLN, PGN Panen Energi!

Author Image

Hadi Wibawa

19 Juli 2026, 08:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Pemerintah secara resmi mengumumkan bahwa mayoritas produksi gas dari Blok Masela, yakni sebesar 60%, akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan energi dan industri di dalam negeri. Keputusan strategis ini menargetkan sektor-sektor vital seperti industri pupuk, kelistrikan nasional melalui PLN, hingga pengembangan hilirisasi yang diharapkan dapat mendongkrak perekonomian.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahdalia, menegaskan bahwa kebijakan ini membatasi porsi ekspor gas Blok Masela maksimal 40%. Penegasan ini disampaikan Bahlil kepada Presiden Joko Widodo menjelang seremoni peletakan batu pertama Proyek LNG Abadi Masela yang berlokasi di Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku.

TERUNGKAP! Gas Masela: Pupuk, PLN, PGN Panen Energi!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Kami berkomitmen mengalokasikan minimal 60% produksi gas Blok Masela untuk kebutuhan domestik, sementara maksimal 40% sisanya akan dialokasikan untuk ekspor," jelas Bahlil dalam keterangan resminya. Ia menambahkan, sebagian dari alokasi domestik tersebut akan dimanfaatkan untuk mendukung rencana hilirisasi PT Pupuk yang berambisi membangun fasilitas industri di wilayah tersebut.

Tak hanya industri pupuk, Bahlil juga menyebutkan bahwa pasokan gas dari Blok Masela akan disalurkan kepada PT PLN untuk kebutuhan kelistrikan, PGN sebagai penyedia gas, serta beberapa entitas swasta. Tujuan utama dari distribusi ini adalah untuk menciptakan nilai tambah signifikan dan memacu geliat ekonomi di tingkat regional.

Kementerian ESDM, berkolaborasi dengan SKK Migas, menjamin bahwa porsi alokasi gas untuk pasar domestik ini telah terintegrasi dalam Rencana Pengembangan Lapangan (Plan of Development/PoD). Hal ini krusial untuk mengantisipasi lonjakan permintaan gas bumi, khususnya dari sektor industri, pabrik pupuk, dan pembangkit listrik.

Sebagai informasi, Lapangan Gas Abadi Blok Masela merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang vital. Lokasinya membentang sekitar 180 kilometer di lepas pantai Pulau Yamdena, Laut Arafura, dengan kedalaman laut mencapai 400 hingga 800 meter. Kontrak Kerja Sama (PSC) untuk Wilayah Kerja Masela sendiri memiliki rentang waktu yang panjang, yakni dari tahun 1998 hingga 2055.

Dari lapangan ini, proyeksi produksi mencakup 9,5 juta ton LNG per tahun (million tonnes per annum/MTPA), 150 juta kaki kubik standar gas pipa per hari (million standard cubic feet per day/MMSCFD), dan sekitar 35.000 barel kondensat setiap hari.

Pengembangan Blok Masela melibatkan serangkaian infrastruktur canggih, termasuk sistem pengeboran dan produksi yang berada di bawah laut, fasilitas Floating Production Storage and Offloading (FPSO), jaringan pipa gas ekspor sepanjang kurang lebih 175 kilometer, serta unit kilang LNG yang berlokasi di daratan.

Menariknya, proyek ini juga akan mengimplementasikan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dalam proses produksi LNG. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen untuk menekan emisi karbon dan mendukung agenda pemerintah dalam transisi energi menuju keberlanjutan.

Dengan skema alokasi yang matang ini, produksi gas dari Blok Masela diharapkan mampu menjadi tulang punggung pemenuhan kebutuhan energi berbagai sektor di Tanah Air, sembari tetap membuka peluang untuk ekspor. Namun, keberhasilan implementasinya akan sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur proyek, realisasi fasilitas pengolahan, serta kapasitas penyerapan gas oleh para pengguna domestik yang dituju.

Related Post