Redaksibengkulu.co.id – Di tengah hiruk pikuk Jakarta yang tak pernah tidur, khususnya di sentra kuliner Bendungan Hilir (Benhil), sebuah revolusi pembayaran digital tengah terjadi, mengubah cara pedagang kecil bertransaksi dan mendongkrak omzet mereka. Bukan lagi sekadar uang tunai, kini QRIS BRI menjadi senjata ampuh bagi para pelaku UMKM, dari penjual es cendol hingga ayam penyet, untuk meraup keuntungan lebih cepat dan efisien.
Pukul 11.45 WIB, Jalan Walahar, Benhil, dipadati pegawai kantoran yang mencari santapan makan siang. Di antara kepulan asap masakan, sebuah banner hijau bertuliskan "Es Cendol Durian Sari Suji 86" milik Muhammad Saripudin (40) menjadi magnet. Es cendol suji alami berpadu es kristal, gula merah, dan santan gurih seolah memanggil mereka yang kegerahan, menawarkan oase di tengah teriknya Ibu Kota.

Saripudin, yang baru dua minggu menjajakan dagangannya di lokasi strategis ini setelah sebelumnya di Kebayoran, membawa warisan resep turun-temurun. Usaha kuliner ini bukanlah bisnis kemarin sore, melainkan sebuah warisan yang sarat pengalaman sejak orang tuanya memulai, dan ia sendiri telah berjualan sejak 2005. Sadar akan dominasi kaum urban dan pekerja kantoran yang akrab dengan gaya hidup cashless, ia tak ragu mengadopsi QRIS BRI sejak setahun lalu. "Pembeli kan suka pada nanyain, ini bisa pakai QRIS apa enggak, jadi akhirnya bikin QRIS BRI," kenangnya kepada Redaksibengkulu.co.id.
Also Read
Keputusan ini terbukti jitu. Di tengah antrean panjang saat jam makan siang, QRIS BRI menjadi penyelamat. Saripudin tak perlu lagi pusing memikirkan uang kembalian atau menghitung lembaran uang tunai, mempercepat transaksi dan melayani lebih banyak pelanggan. "QRIS memudahkan sih, karena di sini banyak karyawan juga, mereka rata-rata pakai QRIS. Praktis," imbuhnya. Selain praktis dan minim sentuhan fisik, perputaran uang kini lebih aman, rapi, dan tercatat otomatis di sistem perbankan.
Meski masih meraba pasar di Benhil dan belum bisa memastikan omzet harian seperti saat di Kebayoran yang bisa mencapai Rp 800 ribu dari 80 cup sehari, Saripudin tetap optimistis. Strateginya adalah variasi menu yang ramah di kantong: dari Es Cendol Ori Rp 8.000, Es Cendol Ketan dan Nangka Rp 10.000, hingga Es Cendol Durian atau Alpukat Rp 15.000. Bagi penikmat kombinasi, tersedia Es Cendol Durian+Nangka atau Alpukat+Nangka Rp 17.000. Puncaknya, Es Cendol Spesial Durian+Nangka+Alpukat+Ketan seharga Rp 25.000, bahkan paket 1 kg untuk disajikan di rumah atau acara kantor seharga Rp 50.000.
Kisah sukses digitalisasi tak hanya milik Saripudin. Asim (50), pedagang Ayam Penyet Sidawangi di lokasi yang sama, juga merasakan dampak positif QRIS BRI. Ia mulai menggunakannya setelah pandemi mereda, berkat edukasi dari pihak BRI setempat yang aktif merangkul UMKM. "Sekarang hampir semua pakai QRIS, karena lebih cepat, tinggal scan aja, apalagi di sini kebanyakan yang beli karyawan," ujar Asim. Kehadiran QRIS BRI tak hanya mempercepat transaksi, tetapi juga menjadi motor penggerak usaha Asim. Ia bahkan berinisiatif memasang "Harga Promo Pake BRImo" untuk menarik pelanggan. "Harga standarnya itu Rp 23.000 tapi kalau pakai QRIS atau BRImo itu jadi Rp 17.000," jelasnya, menunjukkan kreativitas pedagang dalam memanfaatkan fitur digital.
Direktur Network and Retail Funding BRI, Aquarius Rudiantoro, secara terpisah menegaskan pertumbuhan signifikan kanal digital BRI. Pada kuartal I 2026, pengguna super app BRImo mencapai 47,8 juta atau tumbuh 18,6%, dengan volume transaksi tembus Rp 2.042,2 triliun atau naik 29,4% year-on-year (yoy). Volume transaksi QRIS BRI sendiri melonjak 76% yoy menjadi Rp 30,5 triliun, dengan 253 miliar transaksi atau meningkat 86,7% YoY. Angka-angka ini membuktikan komitmen BRI dalam mendukung UMKM dan memperkuat kapasitas usaha masyarakat, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan di berbagai wilayah.
Dari es cendol yang menyegarkan hingga ayam penyet yang menggugah selera, QRIS BRI telah membuktikan diri sebagai solusi pembayaran modern yang tidak hanya praktis, tetapi juga strategis dalam memajukan UMKM di era digital, membuka peluang omzet yang lebih besar bagi para pedagang.




