Redaksibengkulu.co.id melaporkan bahwa Presiden Prabowo Subianto, dalam forum bergengsi World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, menegaskan komitmen Indonesia sebagai negara yang tak pernah sekalipun gagal dalam membayar utang. Ia menekankan bahwa setiap pemerintahan yang berkuasa selalu menunaikan kewajiban finansial dari rezim sebelumnya, sebuah prinsip yang dipegang teguh untuk menjaga kredibilitas bangsa.
"Secara historis, Indonesia belum pernah mencatat kegagalan pembayaran utang. Ini adalah prinsip yang dipegang teguh, di mana setiap pemimpin negara selalu menghormati dan melunasi kewajiban finansial yang diwarisi," ungkap Prabowo, sebagaimana disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden pada Jumat, 23 Januari 2026.
Kemampuan Indonesia dalam menunaikan kewajiban utang ini, lanjut Prabowo, merupakan fondasi utama dalam menjaga kredibilitas dan reputasi bangsa di mata dunia. Ia menambahkan bahwa pujian dari lembaga-lembaga internasional terhadap ketangguhan ekonomi Indonesia bukanlah sekadar optimisme kosong, melainkan didasari oleh bukti konkret. "Mereka mengakui bahwa ekonomi Indonesia tangguh, dan kebijakan kita selalu terkalibrasi dengan baik," tegasnya.

Related Post
Menilik lebih dalam pada data utang pemerintah, Redaksibengkulu.co.id merujuk pada informasi dari situs resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan. Tercatat, hingga kuartal III tahun 2025, total posisi utang pemerintah mencapai angka Rp 9.408,64 triliun.
Komposisi utang tersebut didominasi oleh penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) yang menyumbang Rp 8.187,55 triliun, atau sekitar 87,02% dari total. Sisanya, sebesar Rp 1.221,09 triliun atau 12,98%, berasal dari pinjaman. DJPPR menegaskan bahwa pemerintah senantiasa mengelola utang dengan pendekatan yang cermat dan terukur, bertujuan untuk membentuk portofolio utang yang optimal sekaligus mendorong pertumbuhan pasar keuangan domestik.
Perlu dicatat, angka utang ini menunjukkan peningkatan dibandingkan periode sebelumnya. Pada Juni 2025, total utang tercatat sebesar Rp 9.138,05 triliun, dan pada Mei 2025, angkanya berada di Rp 9.177,48 triliun. Kenaikan ini mengindikasikan dinamika pengelolaan keuangan negara yang terus berjalan, namun tetap dalam koridor komitmen pembayaran yang kuat.









Tinggalkan komentar