Terungkap! Trump ‘Nimbun’ Rp 200 T Mineral, China Ketar-ketir?

Terungkap! Trump 'Nimbun' Rp 200 T Mineral, China Ketar-ketir?

Redaksibengkulu.co.id melaporkan bahwa mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan tengah menggodok sebuah inisiatif ambisius yang dijuluki ‘Project Vault’. Proyek ini bertujuan untuk membangun cadangan mineral kritis nasional, dengan tujuan utama memutus ketergantungan AS dari pasokan logam tanah jarang dan mineral strategis lainnya yang selama ini didominasi oleh China.

Untuk mewujudkan ‘Project Vault’, alokasi dana awal yang fantastis sebesar US$12 miliar, atau setara dengan lebih dari Rp 201,57 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.798 per dolar AS), telah disiapkan. Pendanaan ini, sebagaimana diungkapkan oleh sumber internal kepada Redaksibengkulu.co.id, akan bersumber dari kombinasi investasi swasta senilai US$1,67 miliar (sekitar Rp 28,05 triliun) dan pinjaman signifikan dari Bank Ekspor-Impor AS sebesar US$10 miliar (sekitar Rp 167,98 triliun). Dana jumbo ini akan digunakan untuk mengakuisisi dan menimbun mineral-mineral vital yang esensial bagi sektor manufaktur mobil, perusahaan teknologi, dan berbagai industri strategis lainnya di Amerika.

Terungkap! Trump 'Nimbun' Rp 200 T Mineral, China Ketar-ketir?
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Langkah strategis Trump ini bukanlah tanpa alasan. Upaya untuk mengurangi kerentanan AS dalam rantai pasok mineral kritis bermula ketika China, di masa lalu, menerapkan kontrol ketat terhadap ekspor sejumlah logam tanah jarang dan material penting lainnya. Kebijakan tersebut kala itu sontak memicu gejolak serius, memaksa beberapa produsen AS untuk memangkas produksi akibat kelangkaan stok mineral dan lonjakan harga yang signifikan. Insiden ini secara telanjang menunjukkan betapa besarnya pengaruh Beijing terhadap denyut nadi sektor perindustrian Paman Sam.

COLLABMEDIANET

Dengan adanya cadangan mineral nasional ini, produsen AS akan memiliki jaring pengaman. Mereka diizinkan untuk mengambil sebagian dari persediaan nasional saat dibutuhkan, dengan kewajiban untuk mengisi kembali stok tersebut di kemudian hari. Lebih jauh lagi, jika terjadi gangguan pasokan berskala besar, akses penuh terhadap seluruh persediaan akan dibuka, memberikan ketahanan yang krusial terhadap risiko kenaikan harga maupun kelangkaan bahan baku.

Dalam implementasinya, sumber yang enggan disebutkan namanya kepada Redaksibengkulu.co.id menjelaskan bahwa ‘Project Vault’ telah berhasil menggandeng partisipasi dari sejumlah raksasa korporasi AS. Di antaranya adalah General Motors, Stellantis, Boeing, Corning, GE Vernova, hingga Google di bawah payung Alphabet. Tak hanya itu, perusahaan perdagangan komoditas terkemuka seperti Hartree Partners, Traxys North America, dan Mercuria Energy Group juga akan terlibat aktif dalam mengelola pengadaan bahan baku untuk persediaan strategis ini.

Elemen kunci lain dalam rancangan proyek ini adalah mekanisme penstabil harga yang inovatif. Produsen yang berkomitmen untuk membeli sejumlah bahan tertentu dengan harga tetap juga akan diwajibkan untuk membeli kembali jumlah yang sama dengan biaya yang sama di masa mendatang. "Pemerintah melihat hal itu sebagai mekanisme penstabil, yang membantu menekan volatilitas," jelas sumber tersebut, seperti dikutip Redaksibengkulu.co.id. Dengan demikian, ‘Project Vault’ tidak hanya menjadi gudang fisik mineral, tetapi juga sebuah instrumen ekonomi yang dirancang untuk menjaga stabilitas pasar dan mengamankan masa depan industri AS.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar