Trump Guncang Pasar Global! Larang Ekspor Solar, Ada Apa?

Author Image

Hadi Wibawa

23 September 2026, 08:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali membuat gebrakan dengan mendukung penuh rencana pelarangan ekspor solar. Langkah kontroversial ini diambil di tengah lonjakan harga bahan bakar yang mencapai rekor tertinggi, memicu perdebatan sengit di kancah politik AS dan berpotensi mengguncang pasar energi global.

Trump secara tegas menyatakan dukungannya, menekankan bahwa solar yang diproduksi di AS seharusnya diprioritaskan untuk kebutuhan domestik. "Saya sudah mengatakan, jangan kirim solar ke luar. Kami memproduksi banyak solar. Saya sudah menyerukan itu. Saya sudah menyampaikannya kepada orang-orang saya," ujarnya, seperti dilaporkan oleh Reuters.

Trump Guncang Pasar Global! Larang Ekspor Solar, Ada Apa?
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Respons dari Gedung Putih pun tak kalah cepat. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengonfirmasi bahwa pemerintah sedang mengkaji secara serius kemungkinan penerapan larangan ekspor solar. Kajian tersebut mencakup apakah pembatasan akan diberlakukan secara penuh atau hanya sebagian, mempertimbangkan dampak luasnya terhadap ekonomi dan pasar energi.

Dorongan untuk membatasi ekspor bukan hanya datang dari Trump. Sejumlah kandidat Partai Republik yang tengah berjuang keras memperebutkan kursi Kongres juga menyuarakan hal serupa. Senator Dan Sullivan dari Alaska, anggota DPR Ashley Hinson dari Iowa, dan Mike Rogers dari Michigan adalah beberapa di antaranya. Sullivan dengan lantang menyatakan, "Bahan bakar Amerika harus tetap berada di dalam negeri untuk rakyat Amerika." Ia juga mendesak penghentian sementara ekspor untuk mengisi kembali cadangan diesel menjelang musim dingin, sekaligus memprioritaskan kebutuhan masyarakat di dalam negeri.

Lonjakan harga solar di AS dan Eropa memang telah mencapai puncaknya. Konflik di Iran dan Ukraina menjadi biang keladi utama, memangkas pasokan ekspor dari produsen kunci seperti Rusia, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Situasi ini diperparah dengan kekhawatiran pemilih menjelang pemilu paruh waktu, di mana harga pangan dan kebutuhan pokok lainnya menjadi isu sentral yang sangat diperhatikan.

Departemen Pertanian AS juga tak tinggal diam. Pekan lalu, Menteri Pertanian Brooke Rollins mendesak Gedung Putih untuk segera bertindak. Rollins menyebut lonjakan harga solar sebagai "persoalan yang serius" dan telah membahasnya langsung dengan Trump, menggarisbawahi urgensi masalah ini bagi sektor pertanian.

Keputusan untuk melarang ekspor solar, jika benar-benar diterapkan, akan menjadi langkah drastis yang menunjukkan prioritas pemerintah AS untuk menstabilkan harga di dalam negeri. Namun, dampaknya terhadap pasar global dan hubungan dagang internasional masih menjadi tanda tanya besar, mengingat AS adalah pemain kunci dalam rantai pasok energi dunia.

Related Post