Redaksibengkulu.co.id, Purwokerto – Di tengah gempuran pasar global, sektor UMKM di Banyumas dan Banjarnegara justru semakin bersinar. Mereka terus berinovasi dan menjaga kualitas, membuktikan diri sebagai tulang punggung ekonomi daerah yang mampu bersaing di kancah internasional.
Di Desa Bawang, Banjarnegara, UMKM pengolah mocaf (modified cassava flour) menjadi contoh nyata. Berawal dari keprihatinan terhadap harga singkong yang rendah, Riza Azyumarridha Azra mendirikan PT Rumah Mocaf Indonesia. Ia berhasil mengubah singkong menjadi produk bernilai tinggi, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan petani.
"Dulu petani singkong menangis karena harga hanya Rp 200 per kg," ungkap Riza. Kini, Rumah Mocaf Indonesia memberdayakan ratusan petani dan memiliki 33 karyawan tetap.

Related Post
Dengan dukungan Bank Indonesia (BI) Purwokerto, Rumah Mocaf Indonesia berhasil menembus pasar global melalui platform Alibaba. Mereka juga aktif mengikuti pameran internasional, hingga berhasil melakukan ekspor ke China dan menjalin kerjasama dengan buyer di Dubai senilai USD 1,3 juta per tahun.
"BI sangat membantu, mulai dari pembuatan lapak di Alibaba hingga fasilitasi pameran," ujar Riza.
Tak hanya itu, Rumah Mocaf Indonesia juga menjadi bagian dari program prioritas pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Bergeser ke Banyumas, tepatnya di Desa Dawuhan, para petani berhasil mengembangkan pertanian organik. Kekhawatiran akan kerusakan tanah mendorong mereka untuk beralih ke metode pertanian yang lebih ramah lingkungan.
"Awalnya karena tanah rusak dan produksi menurun," kata Slamet, Ketua Gapoktan Marsudi Among Tani. Kini, mereka menghasilkan beras organik berkualitas tinggi dan produk turunannya, serta mandiri dalam memenuhi kebutuhan pupuk.
BI juga memberikan dukungan berupa rice milling unit dan pelatihan inovasi produk, sehingga para petani semakin berdaya.
Di bidang wastra, Slamet Hadipriyanto melestarikan batik Banyumas melalui Galeri Batik Banyumas Hadipriyanto. Meski tak sepopuler batik Solo atau Jogja, ia tetap bersemangat menjaga warisan budaya ini.
"Tantangannya adalah ketidakpopuleran batik Banyumas," ungkap Slamet. Dengan dukungan BI dan pemanfaatan pemasaran digital, Batik Banyumas Hadipriyanto kini semakin dikenal luas.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Christoveny, menegaskan komitmen BI untuk terus mendukung UMKM. Kontribusi UMKM terhadap perekonomian daerah mencapai 70%, sehingga BI terus memberikan pembinaan intensif dan bantuan alat agar UMKM bisa naik kelas dan go digital.









Tinggalkan komentar