Untung 3 Kali Lipat! Kubis Dairi Siap Kuasai Pasar Asia

Author Image

Hadi Wibawa

20 September 2026, 14:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Petani kubis di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, kini memiliki prospek cerah untuk meraih keuntungan berlipat ganda. Kementerian Pertanian, melalui Direktorat Jenderal Hortikultura, bersama Pemerintah Kabupaten Dairi, secara agresif mendorong ekspor kubis dari wilayah tersebut ke pasar Asia. Inisiatif strategis ini diwujudkan melalui program Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP), yang menjanjikan peningkatan pendapatan petani hingga dua bahkan tiga kali lipat.

Program HDDAP berfokus pada penguatan budidaya kubis berstandar ekspor, peningkatan kualitas pascapanen, serta pembangunan rantai pasok yang berkelanjutan. Langkah-langkah ini krusial untuk mendongkrak daya saing produk dan secara signifikan meningkatkan kesejahteraan petani kubis di Dairi. Kabupaten Dairi sendiri memang memiliki potensi besar sebagai sentra hortikultura nasional, didukung oleh kondisi tanah vulkanik yang subur dan ketinggian wilayah antara 700 hingga 1.450 meter di atas permukaan laut. Kondisi geografis ini sangat ideal untuk pengembangan kubis dataran tinggi yang dikenal renyah dan padat.

Untung 3 Kali Lipat! Kubis Dairi Siap Kuasai Pasar Asia
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Dairi tahun 2025 menunjukkan bahwa luas panen kubis di daerah ini telah melampaui 549 hektare, dengan produktivitas lahan mencapai 6 hingga 7,3 ton per hektare. Dengan potensi tersebut, produksi kubis Dairi saat ini diperkirakan mencapai 5.000 hingga 6.000 ton per tahun, yang mayoritas memenuhi kebutuhan pasar domestik. Melalui modernisasi pertanian dan penguatan rantai pasok, pemerintah daerah memproyeksikan alokasi produksi untuk pasar ekspor sebesar 100 hingga 200 ton per bulan pada tahap awal. Proyeksi ini akan ditopang oleh penerapan standar mutu internasional, penguatan kelembagaan petani, serta peningkatan kapasitas penanganan pascapanen.

Pembukaan pasar ekspor ini secara langsung akan melambungkan nilai ekonomi bagi petani kubis di Dairi. Proyeksi menunjukkan bahwa harga kubis di pasar domestik berkisar antara Rp2.500 hingga Rp4.000 per kilogram, dengan keuntungan bersih sekitar Rp1.000 hingga Rp1.500 per kilogram. Namun, untuk pasar ekspor, harga kubis diproyeksikan mencapai Rp7.000 hingga Rp10.000 per kilogram. Setelah memperhitungkan penyesuaian biaya produksi, termasuk penyortiran dan pengemasan yang diperkirakan mencapai Rp2.500 hingga Rp3.000 per kilogram, keuntungan bersih petani diproyeksikan berada pada kisaran Rp3.500 hingga Rp5.000 per kilogram. Angka ini berarti potensi peningkatan keuntungan petani sekitar dua hingga tiga kali lipat dibandingkan penjualan di pasar domestik. Varietas Green Nova F1 menjadi salah satu andalan petani karena karakteristiknya yang sesuai untuk pasar dataran tinggi, seperti bobot ideal, knop padat, dan daya simpan yang baik.

Pengembangan ekspor kubis Dairi diarahkan untuk membidik pasar Asia Tenggara dan Asia Timur. Malaysia dan Singapura menjadi target pasar potensial dengan kebutuhan pasokan rutin, sementara Taiwan juga menjadi salah satu tujuan yang menuntut persyaratan mutu dan kesegaran produk yang ketat. Untuk memenuhi standar internasional ini, petani didorong menerapkan Good Agricultural Practices (GAP), termasuk pengelolaan budidaya yang baik, penggunaan pestisida secara tepat, dan pengendalian residu sesuai ketentuan negara tujuan ekspor. Penerapan sorting and grading juga menjadi kunci dalam menjaga konsistensi mutu, dengan target bobot kubis ekspor antara 1,5 hingga 2,5 kilogram per knop.

Di sisi kelembagaan, pemerintah daerah memperkuat peran kelompok tani dan koperasi untuk mendukung konsolidasi produksi, kontinuitas pasokan, serta meningkatkan posisi tawar petani dalam rantai pemasaran. Freddy Lumban Gaol, Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Kementerian Pertanian sekaligus Project Director HDDAP, menegaskan bahwa pengembangan kubis di Kabupaten Dairi merupakan bagian integral dari upaya pemerintah memperkuat hilirisasi hortikultura berbasis kawasan dan mendongkrak nilai tambah produk petani.

"Program HDDAP tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga mendorong penguatan rantai nilai hortikultura dari hulu hingga hilir. Kabupaten Dairi memiliki potensi pengembangan kubis yang perlu dioptimalkan melalui penerapan praktik budidaya yang baik, peningkatan kualitas pascapanen, dan penguatan akses pasar. Kami ingin memastikan bahwa produk yang dihasilkan petani mampu memenuhi persyaratan mutu dan memiliki daya saing di pasar domestik maupun internasional," ujar Freddy dalam keterangan tertulisnya. Ia menambahkan, akses pasar ekspor harus dibangun melalui kesiapan produksi, konsistensi mutu, dan kepastian pasokan, sehingga pendampingan melalui HDDAP diarahkan untuk memperkuat kapasitas petani.

Dukungan terhadap pengembangan kubis Dairi juga datang dari sinergi antara Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Dairi dengan Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian. Kesti Rusda Angkat, Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Dairi, menyatakan optimisme terhadap kualitas kubis Dairi. "Kubis Dairi memiliki kualitas premium yang tidak kalah bersaing dengan produk luar negeri. Melalui pendampingan dari hulu ke hilir dalam program HDDAP, Dairi siap melakukan pengembangan kubis seluas lebih dari 215 hektare. Kami berkomitmen mendampingi petani agar mampu memenuhi standar mutu serta menjaga kontinuitas pasokan ekspor secara berkelanjutan," tegas Kesti.

Sambutan positif juga datang dari para petani kubis. Juragan Sihombing, petani dari Kelompok Tani Martabe, Desa Lae Hole II, Kecamatan Parbuluan, berharap program HDDAP dapat membuka akses pasar yang lebih luas. "Program HDDAP sangat bermanfaat bagi kami. Selama ini, kami sangat bergantung pada harga pasar lokal yang kerap berfluktuasi," kata Juragan. Ia menilai, pendampingan budidaya berstandar ekspor dan kepastian pembeli luar negeri akan menjadi faktor penting dalam meningkatkan kepastian pemasaran dan pendapatan petani secara signifikan.

Pengembangan kubis di Kabupaten Dairi melalui program HDDAP ini diharapkan menjadi model bagi upaya memperkuat hilirisasi hortikultura, meningkatkan nilai tambah produk pertanian, serta memperluas peluang pasar bagi petani Indonesia. Melalui kolaborasi erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, kelembagaan petani, dan pelaku usaha, pengembangan komoditas kubis diarahkan untuk membangun sistem produksi yang berdaya saing tinggi, memenuhi standar pasar global, dan berkelanjutan.

Related Post