Vietnam Siap Meledak! Rp 106 T Banjiri Bursa!

Author Image

Hadi Wibawa

21 September 2026, 05:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id melaporkan, pasar saham Vietnam berada di ambang transformasi besar. FTSE Russell, lembaga penyedia indeks global terkemuka, dikabarkan akan mengerek status bursa saham Vietnam menjadi ‘Secondary Emerging Market’ dalam klasifikasi ulang yang dijadwalkan Senin mendatang. Kabar ini sontak memicu gelombang minat dari investor asing, dengan perkiraan arus modal masuk yang fantastis, mencapai Rp 106,87 triliun.

Peningkatan status ini bukan sekadar formalitas; ini akan secara signifikan meningkatkan eksposur saham-saham Vietnam di mata dunia. Menurut proyeksi FTSE, aliran dana segar sebesar US$6 miliar atau setara Rp 106,87 triliun (dengan asumsi kurs Rp 17.812 per dolar AS) diperkirakan akan membanjiri pasar. Proses transisi menuju status baru ini akan dilakukan secara bertahap dalam empat fase, yang dijadwalkan rampung pada tahun 2027. Saat ini, bursa saham Vietnam masih menyandang status ‘frontier market’ dalam klasifikasi FTSE.

Vietnam Siap Meledak! Rp 106 T Banjiri Bursa!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Fiona Bassett, Kepala Eksekutif FTSE, menyambut baik perkembangan ini. "Tonggak sejarah ini secara jelas merefleksikan kemajuan luar biasa yang telah dicapai Vietnam dalam memperkuat fondasi pasar modalnya," ujar Bassett, seperti dikutip Redaksibengkulu.co.id. Pernyataan ini menggarisbawahi upaya keras Vietnam dalam memperbaiki regulasi dan infrastruktur pasar.

Optimisme serupa juga diungkapkan oleh Duncan Burns dari manajemen investasi Asia-Pasifik Vanguard. Ia menegaskan komitmen pihaknya untuk memperbesar eksposur di pasar saham Vietnam. Vanguard bahkan berencana mengalokasikan investasi hingga US$2,5 miliar, atau sekitar Rp 44,53 triliun, dalam beberapa tahun ke depan. Angka ini diprediksi masih bisa melonjak lebih tinggi lagi seiring dengan alokasi modal dari dana kelolaan aktif, yang diharapkan dapat membangkitkan kembali gairah investor asing terhadap saham-saham Vietnam.

Data menunjukkan, investor asing telah aktif membeli saham senilai 2,7 triliun dong di Bursa Efek Ho Chi Minh selama periode 14 hingga 18 September. Namun, perlu dicatat bahwa secara kumulatif sepanjang tahun ini, mereka masih tercatat sebagai penjual bersih dengan total sekitar 91 triliun dong. Ini menunjukkan adanya dinamika menarik di pasar menjelang kenaikan peringkat.

Pada bulan Agustus, FTSE telah mengidentifikasi 27 emiten Vietnam yang memenuhi kriteria untuk masuk dalam klasifikasi Indeks FTSE Global All Cap. Di antaranya terdapat nama-nama besar seperti konglomerat Vingroup, raksasa teknologi FPT, dan produsen baja Hoa Phat Group. Analisis dari SSI Research memprediksi bahwa pada tahap awal, arus dana ETF akan banyak mengalir ke saham-saham bank swasta seperti VPBank, pengembang properti Vinhomes, FPT, dan Hoa Phat. Namun, Vingroup justru diperkirakan akan mengalami arus dana keluar bersih sekitar US$28 juta. Fenomena ini disebabkan oleh proyeksi penjualan dari ETF yang sudah ada, yang diperkirakan lebih besar dibandingkan pembelian saham Vingroup pasca kenaikan peringkatnya.

Craig Martin, Ketua Dynam Capital, melihat kenaikan peringkat FTSE sebagai sinyal penting. "Ini adalah pertanda dalam perjalanan menuju kesadaran dan keterlibatan yang lebih besar dari investor asing," kata Martin. Ia menambahkan bahwa pasar Vietnam saat ini masih relatif murah dengan pertumbuhan pendapatan yang tetap kuat, menjadikannya prospek menarik bagi para investor.

Meskipun optimisme membayangi, pasar saham Vietnam masih menghadapi sejumlah tantangan. Batasan kepemilikan asing dan keterbatasan ‘free float’ pada beberapa perusahaan menjadi ganjalan utama. Dari sisi kinerja, VN-Index baru mencatatkan kenaikan sekitar 1,4% sepanjang tahun ini, tertinggal jauh dibandingkan Thailand (24%) dan Singapura (21%), berdasarkan data LSEG. Padahal, tahun lalu Vietnam sempat menjadi pasar saham dengan kinerja terbaik di Asia Tenggara, didorong ekspektasi reklasifikasi FTSE.

Pencapaian ini juga kembali menyalakan harapan Vietnam untuk mendapatkan peningkatan peringkat dari MSCI di masa mendatang. Investor meyakini bahwa implementasi mekanisme kliring melalui ‘central counterparty’ (CCP), yang diperkirakan paling cepat mulai tahun 2027, dapat menjadi kunci bagi Vietnam untuk memenuhi persyaratan akses pasar MSCI yang lebih ketat.

Related Post