Terungkap! Dalang Kenaikan Harga Bawang Putih Rp100 Ribu!

Author Image

Hadi Wibawa

14 Juli 2026, 08:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Kabar mengejutkan datang dari dapur-dapur rumah tangga di seluruh Indonesia. Harga komoditas bawang putih dilaporkan melonjak drastis, bahkan menembus angka fantastis Rp 100.000 per kilogram di beberapa daerah. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kenaikan ini tidak main-main, merambah 269 kabupaten/kota atau sekitar 74,72% wilayah Indonesia hingga pekan kedua Juli 2026.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menekankan urgensi penanganan masalah ini. Menurutnya, bawang putih menjadi komoditas pangan dengan penyebaran kenaikan harga terluas dibandingkan jenis pangan lainnya, sebuah sinyal bahaya yang tidak bisa diabaikan. "Bawang putih perlu mendapatkan perhatian secara serius karena sudah ada 269 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga bawang putih," tegas Amalia dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin (13/7/2026).

Terungkap! Dalang Kenaikan Harga Bawang Putih Rp100 Ribu!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Secara nasional, rata-rata harga bawang putih telah mencapai Rp 42.611 per kilogram, jauh melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan untuk konsumen. Puncak kenaikan harga terparah tercatat di Papua Pegunungan, di mana harganya melambung hingga Rp 100.000 per kilogram.

Beberapa wilayah lain juga menghadapi lonjakan harga yang signifikan. Di Aceh Selatan dan Gorontalo Utara, harga bawang putih mencapai Rp 50.000 per kilogram, sementara di Kabupaten Deiyai, Papua Tengah, angkanya menyentuh Rp 79.000 per kilogram. Amalia merinci, "Kabupaten Aceh Selatan harganya Rp 50 ribu per kg, perubahan IPH-nya sudah 36,38% dan harga ini 31,6% di atas HAP. Selanjutnya Gorontalo Utara harganya Rp 50 ribu per kg, perubahan IPH-nya 20,98% dan harganya 31,58% di atas HAP. Kalau di Kabupaten Deiyai harganya Rp 79 ribu, dia 107,89% di atas HAP."

Menariknya, kenaikan harga ini bukan dipicu oleh kelangkaan pasokan impor. Justru sebaliknya, volume impor bawang putih Indonesia sepanjang Januari hingga Juni 2026 tercatat meningkat 28,44% dibanding periode yang sama tahun lalu, mencapai 229,76 ribu ton.

Amalia menjelaskan, akar permasalahan utama terletak pada dua faktor krusial: pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan melonjaknya biaya logistik internasional. Kombinasi kedua faktor ini secara langsung membuat harga bawang putih impor, khususnya pada Juni 2026, menjadi jauh lebih mahal. "Kenaikan harga dari bawang putih salah satunya ada faktor dari pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya biaya logistik internasional," jelasnya.

Senada dengan Amalia, Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Nawandaru, turut membeberkan penyebab di balik lonjakan biaya logistik. Menurutnya, krisis pasca penutupan di Selat Hormuz menjadi pemicu utama. Ia menjelaskan, pasca krisis tersebut, kapal-kapal berbendera Tiongkok menjadi rebutan banyak negara. Kondisi ini secara otomatis mendongkrak biaya logistik dan distribusi dari negara produsen utama, Tiongkok, menuju Indonesia.

Menyikapi situasi ini, Kementerian Perdagangan tidak tinggal diam. Mereka tengah berkoordinasi intensif dengan Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri untuk mendesak para importir agar mengarahkan kapal-kapal pengangkut bawang putih langsung bersandar di pelabuhan-pelabuhan utama di kawasan timur Indonesia.

Strategi ini diharapkan mampu memangkas rantai distribusi dan secara signifikan menekan biaya logistik, khususnya di wilayah timur Indonesia yang saat ini paling merasakan dampak kenaikan harga. Nawandaru menambahkan, "Kami berharap pelaku usaha dapat mengarahkan dropping langsung ke pelabuhan utama di kawasan timur sehingga biaya logistik berkurang dan distribusi ke daerah-daerah yang saat ini mengalami tekanan harga tinggi menjadi lebih efisien."

Related Post