Redaksibengkulu.co.id – Pemerintah Indonesia menunjukkan komitmen kuat dalam mempercepat pemulihan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla yang berlokasi di Kabupaten Tapanuli Utara. Langkah strategis ini ditempuh guna memperkokoh ketahanan energi nasional sekaligus mengoptimalkan potensi panas bumi yang melimpah hingga mencapai 1.100 MW. Sebuah suntikan dana investasi senilai fantastis US$ 270 juta, atau setara dengan Rp 4,8 triliun (dengan asumsi kurs Rp 18.000), telah disiapkan untuk memastikan kapasitas terpasang 330 MW dapat kembali beroperasi secara optimal pada rentang waktu 2027-2028.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot, menjelaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah menuntaskan seluruh proses administrasi yang diperlukan. "Yang pertama dari sisi administrasi kita akan selesaikan sampai dengan Oktober 2026 ini. Sudah selesai urusan administrasinya, tahun 2027-2028 ini kita kejar peningkatan kapasitas produksi," tegas Yuliot dalam keterangan tertulis Kementerian ESDM pada Sabtu (1/8/2026).

Menurut Yuliot, estimasi kebutuhan investasi tambahan untuk mengembalikan kemampuan produksi pembangkit ke kapasitas semula 330 MW adalah sekitar US$ 270 juta. Ini merupakan langkah awal sebelum mengeksplorasi potensi penuh lapangan yang mencapai 1.100 MW.
Also Read
Penurunan kapasitas produksi PLTP Sarulla saat ini menjadi sekitar 220 MW dari kapasitas terpasang 330 MW disebabkan oleh perubahan tekanan uap, sebuah tantangan teknis yang lumrah dalam operasional lapangan panas bumi. Kondisi ini memerlukan pengelolaan berkelanjutan. Oleh karena itu, pemerintah bersama konsorsium pengelola, Sarulla Operations Ltd. (SOL), telah merancang langkah-langkah penyelesaian administrasi dan rencana investasi yang matang. Setelah kapasitas eksisting kembali pada puncaknya, investasi lanjutan akan digulirkan secara bertahap untuk memaksimalkan pemanfaatan seluruh potensi panas bumi yang tersedia di lokasi tersebut.
PLTP Sarulla sendiri merupakan salah satu aset energi strategis Indonesia, berlokasi di Kecamatan Pahae Julu dan Pahae Jae, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Pembangkit ini dioperasikan oleh konsorsium Sarulla Operations Ltd. (SOL). Fasilitas ini memiliki tiga unit pembangkit, masing-masing berkapasitas 110 MW: Unit Silangkitang (SIL) yang beroperasi komersial sejak Maret 2017, Unit Namora-I-Langit 1 (NIL-1) sejak Oktober 2017, dan Unit Namora-I-Langit 2 (NIL-2) yang mulai beroperasi pada Mei 2018.
Dengan potensi sumber daya panas bumi yang mencapai sekitar 1.100 MW, penguatan pengelolaan lapangan ini diharapkan tidak hanya mengembalikan dan meningkatkan kapasitas pembangkit yang ada, tetapi juga menjadi pilar penting dalam pengembangan energi bersih dan upaya memperkuat ketahanan energi nasional di masa depan.




