Author Image

Hadi Wibawa

5 Agustus 2026, 02:25 WIB

Minyak Dunia Terjun Bebas! Efek Damai AS-Iran?

Redaksibengkulu.co.id – Pasar minyak global dikejutkan dengan penurunan harga yang signifikan, anjlok hampir 4% pada Selasa (4/8/2026), dan menyentuh level terendah dalam tiga pekan terakhir. Penurunan drastis ini dipicu oleh gelombang optimisme baru terkait potensi penyelesaian diplomatik konflik di Timur Tengah, yang diharapkan dapat membuka kembali jalur pengiriman minyak vital melalui Selat Hormuz.

Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Data menunjukkan, minyak mentah Brent, patokan internasional, merosot US$ 3,11 atau 3,71%, menetap di angka US$ 80,66 per barel pada pukul 11.59 waktu setempat. Padahal, sebelumnya sempat menyentuh US$ 86,33 per barel pada sesi intraday. Tak hanya Brent, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga tak luput dari tekanan, terjun US$ 3,58 atau 4,46% menjadi US$ 76,76 per barel, setelah sempat mencapai US$ 82,33 per barel.

Optimisme pasar ini tidak lepas dari pernyataan kunci yang dilontarkan oleh Qatar dan Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, secara tegas menyatakan bahwa upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan di kawasan tersebut masih terus berlangsung. Ia menambahkan, para mediator, termasuk Qatar, Pakistan, dan Oman, bekerja secara intensif untuk memfasilitasi perundingan dan pertukaran rancangan proposal antara pihak-pihak yang bertikai.

Senada dengan Qatar, Menteri Keuangan AS Scott Bessent, dalam wawancaranya dengan CNBC, memberikan sinyal positif. Bessent mengungkapkan bahwa kesepakatan dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz bisa tercapai secepatnya pada Selasa atau Rabu. Ia bahkan mengklaim telah melihat beberapa kapal mulai bergerak keluar dari selat strategis tersebut, sebuah indikasi kuat adanya kemajuan.

Sebelumnya, pada sesi perdagangan yang sama, kedua acuan harga minyak ini sempat menguat lebih dari 2% akibat ketidakpastian mengenai prospek kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, sentimen positif dari pernyataan-pernyataan tersebut langsung membalikkan keadaan, memicu aksi jual masif di pasar.

Analis UBS, Giovanni Staunovo, menjelaskan dinamika pasar ini. "Harga minyak memangkas kenaikan sebelumnya setelah pejabat Qatar mengatakan rancangan penyelesaian potensial antara AS dan Iran telah disusun," ujarnya. Staunovo menambahkan, meskipun produksi di Timur Tengah telah menunjukkan pemulihan dari level terendahnya, pasokan global masih berada di bawah tingkat sebelum konflik, sehingga pasar minyak tetap menghadapi kondisi kekurangan pasokan. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada sentimen positif jangka pendek, tantangan pasokan jangka panjang masih membayangi.


Related Post