Peringatan Zulhas: Beras Rp 20 Ribu/Kg, Ini Alasannya!

Author Image

Hadi Wibawa

4 September 2026, 14:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), melontarkan peringatan serius terkait potensi kenaikan drastis harga beras di pasar domestik. Menurutnya, harga komoditas pangan utama ini berisiko melambung hingga Rp 20.000 per kilogram apabila Indonesia terus-menerus bergantung pada kebijakan impor. Pernyataan tersebut disampaikan Zulhas dalam acara ‘Peluncuran Buku Pangan Indonesia’ yang berlangsung di JCC Senayan, Jakarta, pada Jumat (4/9/2026).

Zulhas menyoroti data historis, di mana Indonesia tercatat mengimpor beras hingga hampir 4,52 juta ton pada tahun 2024, sebelum upaya swasembada pangan mulai digalakkan. Angka fantastis ini, menurutnya, menjadi indikator krusial betapa rentannya ketahanan pangan nasional jika produksi dalam negeri tidak mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.

Peringatan Zulhas: Beras Rp 20 Ribu/Kg, Ini Alasannya!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Menteri yang akrab disapa Zulhas ini juga memaparkan fenomena pergeseran pola konsumsi masyarakat yang patut diwaspadai. Ia mengenang saat pertama kali menjadi anggota DPR pada tahun 2004, konsumsi gandum nasional hanya berkisar 3 hingga 4 juta ton. Namun, kini angkanya melonjak drastis mencapai 13 juta ton, padahal Indonesia tidak memiliki kemampuan untuk menanam gandum secara mandiri.

Fenomena ini, lanjut Zulhas, disebabkan oleh disparitas harga. "Kalau kita terus tidak mau tahu juga, nanti harga beras kita bisa sampai Rp 16.000, Rp 20.000. Sementara harga-harga gandum akan murah," ungkapnya. Ia memprediksi, kondisi ini akan mendorong masyarakat beralih dari nasi ke produk olahan gandum seperti roti, karena dianggap lebih ekonomis.

Ketergantungan pada impor pangan, khususnya gandum, menurut Zulhas, adalah ancaman serius bagi kedaulatan bangsa. "Orang akan pindah makannya. Kenapa gandum naik 13 juta? Karena beras kita mahal, gandumnya murah, pindah. Dia enggak makan nasi goreng, makan roti, karena lebih murah, gitu. Nanti terus akan begitu. Kalau seperti itu, kita akan sangat tergantung, ya pasti enggak merdeka, enggak bisa begini," tegasnya, menekankan pentingnya kemandirian.

Oleh karena itu, Zulhas menegaskan bahwa kemandirian pangan adalah ‘harga mati’ yang akan menjadi penentu arah masa depan bangsa. Visi ini, sebutnya, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. "Tidak mungkin negara itu jadi apa-apa tanpa makannya itu merdeka atau swasembada. Jadi ini yang akan menentukan masa depan kita. Pelan tapi pasti," pungkasnya, menggarisbawahi komitmen pemerintah.

(Redaksi/Editor)

Related Post