Redaksibengkulu.co.id mengabarkan, gejolak harga minyak mentah global kembali memuncak, menembus angka psikologis US$106 per barel. Kenaikan drastis ini dipicu oleh kekhawatiran serius akan terganggunya pasokan dari kawasan Timur Tengah, menyusul insiden serangan yang melumpuhkan jaringan pipa vital milik Arab Saudi.
Berdasarkan pantauan Redaksibengkulu.co.id, pada perdagangan dini hari waktu GMT (pagi WIB) kemarin, harga minyak mentah jenis Brent berjangka, yang menjadi acuan global, melonjak signifikan sebesar 1,18% atau US$1,24, mencapai US$106,93 per barel. Tak ketinggalan, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berjangka juga mengalami kenaikan serupa, yakni 1,24% atau US$1,29, bertengger di level US$102,65 per barel. Lonjakan ini melanjutkan tren positif dari sesi sebelumnya yang juga mencatat kenaikan 1,3%.

Krisis ini berakar dari penutupan jalur pipa minyak utama Arab Saudi, dikenal sebagai East-West Pipeline. Jalur vital yang menghubungkan ladang minyak di Teluk Persia dengan terminal ekspor di Laut Merah ini terpaksa dihentikan operasionalnya setelah menjadi sasaran serangan pasukan Houthi.
Also Read
Situasi kian memanas dengan serangkaian serangan berkelanjutan oleh pasukan Houthi yang didukung Iran di Yaman terhadap Arab Saudi. Serangan rudal dan drone terbaru dilaporkan menargetkan pangkalan udara militer Khamis Mushait di selatan Saudi, menyebabkan kerusakan signifikan pada hanggar pesawat, sistem radar, landasan pacu, dan gudang amunisi. Eskalasi ini, ditambah dengan penundaan diskusi antara negara-negara Teluk Arab dan Iran, telah memicu kekhawatiran global akan meluasnya konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu stabilitas pasokan minyak dunia secara drastis.
Tim Waterer, Kepala Analis Pasar di KCM Trade, menyoroti respons pasar terhadap situasi ini. "Para pedagang minyak sangat sensitif terhadap setiap serangan baru atau kerusakan infrastruktur, menganggapnya sebagai peningkatan risiko pasokan. Mereka juga sangat peka terhadap sinyal-sinyal pemulihan operasional pipa Timur-Barat atau kelancaran lalu lintas di Selat Hormuz," jelas Waterer.
Jika jalur East-West Pipeline tidak segera dipulihkan, Arab Saudi diperkirakan hanya memiliki cadangan minyak ekspor yang cukup untuk beberapa hari ke depan. Kondisi ini berpotensi memangkas pasokan minyak global hingga 4%, sebuah angka yang signifikan bagi pasar energi dunia.
Kekhawatiran diperparah dengan menurunnya lalu lintas kapal komoditas melalui Selat Hormuz. Rute vital yang sebelum konflik mengangkut sekitar 20% pasokan minyak global ini kini hanya mencatat kurang dari 10 transit per hari selama akhir pekan, jauh di bawah rata-rata 14 transit dalam 10 hari terakhir. Situasi ini mengindikasikan semakin sulitnya pengiriman melalui jalur maritim krusial tersebut.
"Pertanyaan krusial bagi para pelaku pasar saat ini adalah seberapa lama gangguan pada jalur pipa Timur-Barat ini akan berlanjut," imbuh Waterer. "Gangguan yang berkepanjangan, ditambah dengan potensi hilangnya pasokan yang signifikan, dapat dengan mudah mendorong harga minyak ke level yang jauh lebih tinggi, memicu ketidakpastian ekonomi global."
(Redaksibengkulu.co.id/berbagai sumber)




