Darurat Udara! Karhutla Bikin Ratusan Penerbangan Kacau!

Author Image

Hadi Wibawa

24 September 2026, 00:26 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatera dan Kalimantan masih menyisakan 209,78 hektare area yang belum berhasil dipadamkan, menimbulkan dampak serius pada sektor transportasi udara. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, mengungkapkan bahwa asap tebal akibat Karhutla telah mengganggu penerbangan komersial dan operasional udara di wilayah tersebut, sementara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat ratusan penerbangan terdampak.

Dalam laporannya pada Rabu (23/9/2026), Suharyanto menjelaskan bahwa total area Karhutla mencapai 1.212,52 hektare, dengan 1.002,74 hektare di antaranya telah berhasil dikendalikan. Namun, sisa 209,78 hektare masih aktif terbakar, dengan Kalimantan Selatan menjadi wilayah terluas yang terdampak (63,16 hektare) dan Kalimantan Barat dengan area terkecil (11,74 hektare).

Darurat Udara! Karhutla Bikin Ratusan Penerbangan Kacau!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Upaya penanganan asap, terutama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, menghadapi kendala signifikan. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum dapat dilaksanakan secara maksimal, menyebabkan ketebalan asap yang mengganggu tidak hanya penerbangan komersial tetapi juga operasi udara dan water bombing. "Ini juga mengganggu penerbangan komersil, operasi udara, dan water bombing," tegas Suharyanto.

Menanggapi situasi genting ini, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, melalui Direktur Jenderal Lukman F. Laisa, menyatakan bahwa keselamatan penerbangan adalah prioritas utama. Kondisi asap yang menurunkan jarak pandang di sekitar bandar udara dapat menyebabkan keterlambatan, penundaan, pembatalan, bahkan pengalihan penerbangan demi menjaga keamanan.

Data pemantauan Kemenhub dari 14 hingga 20 September 2026 menunjukkan dampak yang signifikan. Sebanyak 409 penerbangan di wilayah kerja Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah VII Balikpapan terdampak. Angka ini meliputi 141 penerbangan mengalami keterlambatan (delay), 254 penerbangan dibatalkan atau ditunda, dan 14 penerbangan dialihkan. Jumlah ini meningkat drastis dibandingkan periode sebelumnya (7-13 September 2026) yang mencatat 159 penerbangan terdampak.

Secara kewilayahan, Kalimantan Tengah mencatat dampak tertinggi dengan 201 penerbangan terdampak, terdiri atas 79 delay, 121 cancelled/postponed, dan 1 diverted. Disusul Kalimantan Timur dengan 138 penerbangan terdampak (48 delay, 77 cancelled/postponed, 13 diverted), dan Kalimantan Utara dengan 70 penerbangan terdampak (14 delay, 56 cancelled/postponed). Jarak pandang terendah selama periode tersebut bahkan mencapai 50 meter di beberapa bandara vital seperti Tjilik Riwut, Iskandar, Haji Muhammad Sidik, dan A.P.T. Pranoto.

Dampak Karhutla juga meluas ke Kalimantan Barat pada 21 September 2026, seperti yang dipantau oleh Kantor Otoritas Bandara Wilayah I Kelas Utama. Di Bandara Supadio, Pontianak, beberapa penerbangan mengalami keterlambatan antara 42 hingga 195 menit dan pembatalan. Bandara Rahadi Oesman, Ketapang, juga mengalami keterlambatan, sementara Bandara Singkawang mencatat beberapa pembatalan meskipun statusnya tetap terbuka dengan jarak pandang sekitar 1.000 meter. Bandara Tebelian, Sintang, dan Pangsuma, Putussibau, juga terbuka dengan jarak pandang sekitar 700 meter, meskipun tidak ada jadwal penerbangan saat pemantauan.

Lukman menegaskan, Ditjen Perhubungan Udara bersama seluruh pemangku kepentingan penerbangan terus melakukan pemantauan ketat, koordinasi operasional, dan evaluasi berkala. "Kami terus berkoordinasi dengan penyelenggara bandar udara, penyedia pelayanan navigasi penerbangan, operator penerbangan, serta instansi terkait untuk memastikan operasional penerbangan dapat berjalan dengan tetap memperhatikan keselamatan, keamanan, keteraturan, dan kelancaran penerbangan," pungkasnya.

Related Post