Gas Untuk Rakyat, Ekspor Bisa Dihentikan!

Author Image

Hadi Wibawa

22 Oktober 2026, 14:46 WIB

Redaksibengkulu.co.id, Jakarta — Pemerintah secara tegas menyatakan bahwa seluruh kekayaan sumber daya alam Indonesia, khususnya gas bumi, akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk implementasi dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya "mode bertahan" atau survival mode demi ketahanan nasional.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan ketersediaan energi di dalam negeri terpenuhi sebelum melirik pasar internasional. Hal ini menyusul adanya target ambisius peningkatan produksi gas nasional.

Gas Untuk Rakyat, Ekspor Bisa Dihentikan!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Arahnya sudah sangat jelas, sumber daya alam kita akan digunakan untuk kepentingan domestik terlebih dahulu. Ini adalah bentuk survival mode kita," ujar Bahlil dalam acara peresmian gas JNE#6 dan fasilitas produksi lapangan Maha-South Hub secara virtual, Kamis (22/10/2026).

Berdasarkan data terbaru, total produksi gas Indonesia saat ini telah menyentuh angka 750 MMSCFD. Angka ini merupakan hasil dari produksi eksisting sebesar 450 MMSCFD ditambah tambahan produksi dari sumur Jangkrik North East 6 (JNE-6) sebesar 290 MMSCFD. Pemerintah menargetkan lonjakan produksi yang signifikan hingga mencapai 3.000 MMSCFD pada periode 2028-2029 mendatang.

Bahlil menekankan bahwa alokasi produksi gas akan diprioritaskan untuk kebutuhan nasional. Baru setelah kebutuhan domestik terpenuhi, sebagian dari hasil produksi tersebut akan dialokasikan untuk ekspor.

Menanggapi arahan Presiden Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna, Bahlil juga memberikan sinyal kuat mengenai opsi penghentian ekspor gas ke negara tetangga. Langkah ini diambil jika memang diperlukan untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

"Kita harus masuk ke mode survival. Sebagai pejabat negara, kami harus mampu menjabarkan arahan Presiden ke dalam program nyata untuk mendukung upaya bertahan tersebut," tegasnya di Kompleks Istana Kepresidenan.

Ia bahkan memberikan peringatan secara tersirat kepada negara-negara pengimpor gas. "Jika negara lain memiliki pandangan berbeda, mereka harus berhati-hati. Saya bahkan mempertimbangkan untuk tidak memperpanjang kontrak ekspor gas ke negara tetangga. Fokus utama kita adalah memenuhi kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu," pungkas Bahlil.

Related Post