redaksibengkulu.co.id – Fenomena kepemilikan saham yang terpusat atau High Shareholding Concentration (HSC) pada sejumlah emiten besar di Indonesia kini tengah menjadi sorotan. Meski sering dianggap sebagai risiko bagi likuiditas, pengamat pasar modal justru melihat adanya potensi positif jangka panjang di balik konsentrasi kepemilikan tersebut.
Menurut pandangan pengamat pasar modal, Hans Kwee, kondisi di mana saham dikuasai oleh segelintir pihak sebenarnya mencerminkan tingkat kepercayaan yang sangat tinggi dari pemilik modal terhadap masa depan perusahaan. Ia menyebut bahwa pemegang saham pengendali yang enggan melepas asetnya menunjukkan keyakinan kuat bahwa nilai fundamental perusahaan masih akan terus tumbuh melampaui harga pasar saat ini.

"Dari sisi fundamental, dominasi grup pengendali atau afiliasi menunjukkan komitmen jangka panjang yang solid dari para pendiri terhadap bisnis mereka," ungkap Hans kepada redaksibengkulu.co.id.
Also Read
Lebih lanjut, Hans menjelaskan bahwa perusahaan di bawah naungan konglomerasi besar memiliki keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki emiten kecil. Mereka memiliki akses pendanaan yang luas, ketahanan finansial yang kokoh, serta dukungan modal yang kuat untuk melakukan ekspansi bisnis secara berkelanjutan.
Namun, investor tetap diingatkan untuk waspada terhadap sisi lain dari struktur HSC. Karena porsi saham yang beredar di publik (free float) sangat terbatas, pergerakan harga saham cenderung lebih fluktuatif dan volume transaksi harian biasanya lebih rendah. Hal ini membuat harga saham lebih sensitif terhadap transaksi dalam jumlah besar.
Terkait masuknya sejumlah saham raksasa ke dalam daftar HSC oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), Hans menegaskan bahwa hal tersebut bukanlah sebuah pelanggaran aturan. Sebaliknya, langkah BEI ini merupakan upaya memperkuat transparansi dan kredibilitas pasar modal Indonesia agar setara dengan standar internasional, seperti yang diterapkan di Hong Kong Exchange.
"Masuknya saham konglomerasi ke daftar HSC adalah bagian dari penataan infrastruktur transparansi bursa, bukan vonis negatif terhadap kualitas emiten. Secara operasional, perusahaan-perusahaan ini tetap memiliki kinerja bisnis yang nyata dan solid," tambahnya.
Berikut adalah daftar beberapa perusahaan besar dari grup konglomerasi yang masuk dalam kategori High Shareholding Concentration (HSC):
Sinar Mas Group:
- PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) – HSC 99,58%
- PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE) – HSC 99,21%
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) – HSC 95,76%
- PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS) – HSC 99,24%
- PT Ekamas Mora Republik Tbk. (MORA) – HSC 95,65%
Salim Group:
- PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) – HSC 98,06%
- PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) – HSC 94,79%
- PT DCI Indonesia Tbk (DCII) – HSC 99,69%
- PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) – HSC 95,08%
Mayapada Group:
- PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) – HSC 99,99%
- PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) – HSC 97,21%
- PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA) – HSC 96,68%
Lippo Group:
- PT Multipolar Technology Tbk. (MLPT) – HSC 99,42%
- PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) – HSC 96,70%
Grup Djarum:
- PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) – HSC 93,83%




