Redaksibengkulu.co.id melaporkan bahwa di tengah gejolak geopolitik yang dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat dan Iran, India dan Filipina secara mengejutkan telah beralih ke Rusia untuk mengamankan pasokan minyak mentah mereka. Langkah strategis ini diambil guna menstabilkan ketersediaan energi nasional yang terancam oleh gangguan jalur pasokan global, khususnya di Selat Hormuz.
India, salah satu konsumen energi terbesar di dunia, dilaporkan telah mengamankan pembelian fantastis sebanyak 60 juta barel minyak mentah Rusia. Pembelian ini ditujukan untuk menjamin kebutuhan pasokan hingga April 2026, sebuah peningkatan lebih dari dua kali lipat dibandingkan volume yang dibeli pada Februari 2026. Sumber internal yang dikutip oleh Bloomberg pada Kamis (26/3/2026) mengungkapkan bahwa kargo-kargo ini dibeli dengan harga premium, yakni antara US$5 hingga US$15 di atas harga patokan Brent.
Keputusan pembelian ini tidak lepas dari izin khusus yang diberikan oleh AS kepada India untuk mengakuisisi minyak Rusia yang telah dimuat ke kapal sebelum 5 Maret 2026. Kebijakan ini merupakan respons terhadap potensi krisis pasokan yang diakibatkan oleh penutupan Selat Hormuz. Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, India memang telah menjadi pembeli utama minyak Rusia dengan harga diskon. Meskipun sempat mengalihkan pembelian dari Arab Saudi dan Irak akibat tekanan AS, India kini kembali merangkul Rusia. Para pejabat India optimis bahwa pengecualian dari AS akan terus berlaku selama gangguan di Selat Hormuz berlanjut, mendorong kilang-kilang besar seperti Mangalore Refinery & Petrochemicals Ltd dan Hindustan Mittal Energy Ltd, yang sempat menjauhi minyak Rusia sejak Desember 2025, untuk kembali aktif di pasar.

Related Post
Tak hanya India, Filipina juga menunjukkan langkah serupa. Setelah lima tahun absen, negara kepulauan ini kembali menerima pasokan minyak mentah dari Rusia. Perusahaan kilang minyak Filipina, Petron Corp, dikonfirmasi telah menerima lebih dari 700 ribu barel minyak mentah Rusia. Pengiriman monumental ini terjadi hanya beberapa hari setelah Filipina mengumumkan status darurat energi nasional akibat dampak perang di Timur Tengah.
Kapal Sara Sky berbendera Sierra Leone, yang membawa minyak mentah berkualitas tinggi dari pipa ESPO Rusia, tiba pada Senin (23/3/2026) di pelabuhan Limay, dekat Manila, tempat kilang Petron berada. Seorang jurnalis AFP bahkan menyaksikan langsung keberadaan kapal tersebut, menandai pengiriman minyak Rusia pertama ke Filipina dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
Meskipun CEO Petron, Ramon Ang, sebelumnya mengakui adanya pembicaraan untuk membeli minyak Rusia, ia menolak memberikan konfirmasi saat pengiriman tiba. Presiden Filipina, Ferdinand Marcos, secara terbuka menyatakan bahwa negaranya sedang melakukan pencarian sumber bahan bakar secara ekstensif. Dengan cadangan energi yang diperkirakan hanya cukup untuk 45 hari ke depan, situasi ini sangat mendesak.
"Kami tidak hanya menghubungi pemasok minyak tradisional kami, kami juga telah mencoba untuk mengeksplorasi sumber lain yang tidak terpengaruh oleh perang di Timur Tengah. Tidak ada yang dikesampingkan. Kami sedang mempertimbangkan semuanya, semua yang dapat kami lakukan," tegas Marcos dalam konferensi pers yang membahas keadaan darurat tersebut, menggarisbawahi upaya keras Filipina untuk mengamankan kebutuhan energinya di tengah ketidakpastian global.









Tinggalkan komentar