Trump Guncang The Fed: Pecat Powell, Skandal Rp 38 T!

Author Image

Hadi Wibawa

16 April 2026, 08:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id, Jakarta – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu ketegangan di Washington dengan ancaman tegasnya untuk memecat Ketua Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. Ancaman ini muncul jika Powell menolak mengundurkan diri dari jabatannya pada Mei 2026, di tengah bayang-bayang penyelidikan kriminal terkait dugaan kebohongan kepada Kongres mengenai proyek renovasi kantor pusat The Fed senilai fantastis US$ 2,5 miliar atau sekitar Rp 38 triliun.

"Jika demikian, saya harus memecatnya," tegas Trump, seperti dilaporkan oleh CNN pada Kamis (16/4/2026), menanggapi skenario di mana Powell bersikeras untuk tetap menjabat di dewan bank sentral.

Trump Guncang The Fed: Pecat Powell, Skandal Rp 38 T!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Penyelidikan yang membelit Powell menjadi semakin rumit, melibatkan surat panggilan dari Departemen Kehakiman AS dan tuduhan berbohong kepada Kongres. Isu ini berpusat pada renovasi kantor pusat The Fed senilai US$ 2,5 miliar, sebuah proyek yang telah berulang kali menjadi target kritik tajam dari pemerintahan Trump terhadap kepemimpinan Powell.

Sebagai langkah antisipasi, pada Januari 2026, Trump telah mengusulkan mantan Gubernur The Fed, Kevin Warsh, sebagai pengganti Powell yang masa jabatannya akan berakhir pada 15 Mei 2026. Namun, rencana Trump tidak berjalan mulus. Senator Republik Carolina Utara, Thom Tillis, yang merupakan anggota kunci komite persetujuan calon Ketua The Fed, menyatakan tidak akan memberikan suara sampai penyelidikan terhadap Powell rampung.

Pemerintahan Trump, minggu ini, kembali menegaskan dukungannya terhadap penyelidikan tersebut. Meskipun ada kemungkinan hal ini akan menunda nominasi Warsh dan berpotensi memicu konfrontasi hukum yang justru dapat memperpanjang masa jabatan Powell sebagai Ketua The Fed.

Insiden terbaru yang menggarisbawahi ketegangan ini terjadi pada Selasa (14/4), ketika dua jaksa yang bekerja untuk kantor Kejaksaan Distrik Columbia, dipimpin oleh Jeanine Pirro, ditolak aksesnya saat melakukan kunjungan mendadak ke kantor The Fed untuk memeriksa progres renovasi.

Pirro dengan tegas menyatakan dalam sebuah pernyataan, "Proyek konstruksi apa pun yang mengalami pembengkakan biaya hampir 80% dari anggaran konstruksi awal layak mendapatkan tinjauan serius." Menanggapi insiden tersebut, Robert Hur, seorang pengacara yang mewakili The Fed, kemudian mengingatkan salah satu jaksa penuntut untuk tidak lagi mengunjungi gedung itu tanpa kehadiran pengacara The Fed.

Kunjungan mendadak dan ancaman pemecatan dari Trump ini secara signifikan meningkatkan ketegangan antara pemerintahan AS dan bank sentral. Tindakan-tindakan tersebut tidak hanya memperkeruh suasana politik, tetapi juga menimbulkan pertanyaan serius mengenai independensi bank sentral sebagai institusi vital perekonomian negara.

Related Post