Redaksibengkulu.co.id, Sumatera Barat – Memasuki pekan ketiga pascabanjir bandang yang melanda wilayah Pasaman Barat, pemandangan memilukan masih menyelimuti kawasan perkebunan kelapa sawit di daerah tersebut. Foto udara terbaru menunjukkan hamparan luas lahan sawit masih terendam genangan air, mengakibatkan lumpuhnya seluruh aktivitas produksi dan terhentinya operasional permukiman karyawan.
Kondisi ini bukan hanya mengancam keberlanjutan operasional perusahaan perkebunan, tetapi juga secara langsung memukul ratusan, bahkan ribuan, kepala keluarga yang menggantungkan hidupnya dari sektor ini. Sejak bencana banjir bandang menerjang, pabrik pengolahan sawit tidak dapat beroperasi, dan proses panen pun terhenti total. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan diperkirakan mencapai miliaran rupiah, dengan potensi dampak jangka panjang terhadap pasokan minyak sawit mentah (CPO) dari wilayah tersebut.
Genangan air yang tak kunjung surut, seperti yang terekam dalam citra udara yang diperoleh Redaksibengkulu.co.id pada Minggu, 21 Desember 2025 pukul 20:05 WIB, menunjukkan bahwa infrastruktur dasar di dalam perkebunan, termasuk akses jalan dan fasilitas penunjang lainnya, juga turut rusak parah. Hal ini semakin memperumit upaya evakuasi maupun distribusi bantuan jika ada, serta memperlambat proses pemulihan pascabencana.

Related Post
Para karyawan dan keluarga mereka terpaksa mengungsi atau bertahan dalam kondisi serba terbatas, menanti air surut dan normalisasi keadaan. Banyak di antara mereka kehilangan tempat tinggal atau mengalami kerusakan parah pada rumah mereka akibat rendaman air yang berkepanjangan. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius akan krisis kemanusiaan dan ekonomi lokal jika penanganan tidak segera dipercepat.
Pemerintah daerah dan pihak terkait diharapkan segera mengambil langkah konkret untuk mempercepat penanganan pascabanjir, termasuk upaya drainase masif dan rehabilitasi infrastruktur yang rusak. Tujuannya agar roda perekonomian di Pasaman Barat, khususnya sektor perkebunan sawit yang menjadi tulang punggung, dapat kembali berputar dan kehidupan masyarakat dapat pulih seperti sedia kala.









Tinggalkan komentar