80 Juta Pekerja ASEAN Sudah ‘Dibantu’ AI, Ini Faktanya!

Author Image

Hadi Wibawa

12 Juli 2026, 08:26 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Sebuah laporan terbaru dari Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mengungkap fakta mengejutkan mengenai penetrasi teknologi kecerdasan buatan (AI) di pasar tenaga kerja Asia Tenggara. Diperkirakan, hampir 80 juta pekerja di kawasan ASEAN, atau sekitar 22,9% dari total angkatan kerja, kini telah berinteraksi dan dibantu oleh penggunaan AI dalam aktivitas pekerjaan mereka. Angka ini menyoroti pergeseran signifikan dalam lanskap pekerjaan regional.

Laporan yang dirilis pada Rabu (8/7) itu merinci bahwa dari total tersebut, sekitar 11,7 juta pekerja (3,3%) bahkan memiliki tingkat paparan yang sangat tinggi terhadap AI. Namun, menariknya, mayoritas lapangan kerja, yakni sekitar 67%, diprediksi tidak akan terlalu terpengaruh oleh AI. Meskipun demikian, tren penggunaan AI terus menunjukkan pertumbuhan pesat sejak tahun 2017, bahkan setelah kemunculan AI generatif yang lebih canggih.

80 Juta Pekerja ASEAN Sudah 'Dibantu' AI, Ini Faktanya!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Di tengah lonjakan adopsi AI ini, ILO menegaskan bahwa belum ada indikasi kuat akan terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) massal berskala besar akibat teknologi ini. "Temuan ini menunjukkan semakin pentingnya pasar tenaga kerja bagi pekerjaan-pekerjaan di mana AI generatif dapat semakin membentuk kembali tugas dan proses kerja," demikian pernyataan ILO yang dikutip dari The Straits Times, baru-baru ini.

Jenis pekerjaan yang paling banyak terpapar AI meliputi analis keuangan, pengembang multimedia, dan pialang keuangan. Ironisnya, meskipun beberapa perusahaan teknologi raksasa di ASEAN justru mengurangi jumlah karyawan atau merestrukturisasi tenaga kerja mereka seiring adopsi AI, ILO menemukan bahwa lapangan kerja di sektor-sektor dengan paparan AI tertinggi justru terus berkembang di seluruh Asia Tenggara. Seharusnya, perusahaan-perusahaan ini dapat menyerap lebih banyak pekerjaan yang secara langsung berkaitan dengan kecerdasan buatan.

Secara regional, Singapura memimpin dengan persentase pekerja terpapar AI tertinggi, mencapai 42,2% dari total lapangan kerjanya. Posisi ini diikuti oleh Filipina, Indonesia, Vietnam, dan Thailand. Kesiapan Singapura dalam menghadapi era AI juga dinilai paling tinggi, didukung oleh infrastruktur digital yang mutakhir, sumber daya manusia yang kompeten, serta pendekatan terkoordinasi dari pemerintah.

Melihat dinamika ini, ILO mendesak pemerintah negara-negara ASEAN untuk segera memperkuat tata kelola AI dan mengintegrasikan kebijakan yang berpusat pada manusia. Langkah ini krusial untuk membantu para pekerja dan pelaku bisnis beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan teknologi yang tak terhindarkan.

"Pada akhirnya, hasil pasar tenaga kerja di masa depan akan kurang bergantung pada paparan semata daripada pada pilihan kebijakan untuk membangun kesiapan dan ketahanan pekerja, perusahaan, dan lembaga untuk beradaptasi dan menavigasi transisi AI," pungkas ILO, menekankan pentingnya intervensi kebijakan yang proaktif dan strategis.

Related Post