Jalur Vital Dunia Tercekik, Minyak Terancam!

Author Image

Hadi Wibawa

13 Agustus 2026, 08:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Lalu lintas kapal di Selat Hormuz anjlok drastis, mencapai titik terendah dalam hampir tiga bulan terakhir. Kondisi ini dipicu oleh keraguan mendalam dari kalangan pengusaha terkait prospek kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk sepenuhnya membuka koridor vital ekspor minyak di Timur Tengah tersebut. Ketidakpastian ini menciptakan iklim ketidakpercayaan yang membayangi salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia.

Sebelumnya, pejabat keamanan nasional tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, secara tegas menyatakan bahwa jalur perairan strategis itu tidak akan dibuka penuh sampai Washington memenuhi tuntutan Teheran. Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent sempat menyuarakan optimisme pekan lalu, menyatakan bahwa kesepakatan untuk membuka kembali jalur air dan menjamin kebebasan pelayaran dapat segera terwujud. Pernyataan Bessent bahkan sempat memicu aksi jual minyak di pasar global. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kesepakatan krusial antara AS dan Iran terkait blokade Hormuz belum juga tercapai, memperkuat ketidakpercayaan importir minyak dan perusahaan logistik terhadap keamanan jalur tersebut.

Jalur Vital Dunia Tercekik, Minyak Terancam!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Akibatnya, jumlah rata-rata kapal yang melintas kini hanya sekitar 13 unit per hari, mencakup berbagai jenis mulai dari kapal kargo hingga tanker minyak. Angka ini mendekati level terendah sejak 12 Mei lalu, saat blokade Iran berada di puncaknya. Secara keseluruhan, lalu lintas kapal ini 90% lebih rendah dibandingkan rata-rata harian sebelum perang, yang mencapai 130 unit kapal. Penurunan drastis ini mengindikasikan keengganan para pelaku bisnis untuk mengambil risiko di tengah ketegangan yang belum mereda.

Namun, data aktivitas pelayaran ini sedikit kontras dengan pandangan Menteri Energi AS Chris Wright. Ia meyakini bahwa ekspor minyak melalui Selat Hormuz rata-rata sudah mencapai 9 juta barel per hari. Menurut Wright, volume ekspor yang signifikan ini didorong oleh pengawalan ketat yang dilakukan oleh militer AS saat kapal-kapal tanker melintasi selat itu, di mana satu supertanker dapat membawa sekitar 2 juta barel. Total ekspor minyak dari negara-negara Teluk, termasuk jalur pipa, saat ini rata-rata mencapai 15 juta barel per hari. Angka ini masih di bawah 20 juta barel per hari minyak mentah dan produk olahan yang diekspor melalui Selat Hormuz sebelum konflik. Wright menjelaskan bahwa banyak perusahaan swasta meremehkan jumlah kapal yang melintas karena adanya pergerakan kapal secara "diam-diam" melalui jalur air tersebut, mungkin untuk menghindari perhatian atau risiko.

Situasi ini menyoroti kompleksitas geopolitik yang terus membayangi salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia. Ketidakpastian kesepakatan AS-Iran tidak hanya menghambat aliran minyak global, tetapi juga menciptakan iklim bisnis yang penuh keraguan, dengan implikasi jangka panjang bagi stabilitas pasar energi dan rantai pasok global. Dunia terus menanti kejelasan di Selat Hormuz, yang nasibnya kini bergantung pada negosiasi antara dua kekuatan besar tersebut.

Related Post