Geger! Filipina Pangkas Jam Kerja 4 Hari, Ini Alasannya!

Redaksibengkulu.co.id – Pemerintah Filipina secara resmi mengumumkan kebijakan pemangkasan jam kerja bagi aparatur sipil negara (ASN) menjadi empat hari dalam sepekan. Langkah ini diambil sebagai respons mendesak terhadap krisis energi global, dipicu oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang terus mendorong lonjakan harga bahan bakar di pasar internasional.

Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr., menegaskan bahwa kebijakan pengurangan jam kerja ini bersifat sementara. Namun, ia memastikan bahwa pelayanan publik esensial tidak akan terganggu. Sektor-sektor vital seperti kepolisian, pemadam kebakaran, dan lembaga lain yang menyediakan layanan garda terdepan bagi masyarakat tetap beroperasi penuh. Selain itu, Marcos Jr. juga menginstruksikan seluruh lembaga pemerintah untuk memangkas penggunaan listrik dan biaya bahan bakar hingga 10-20%.

"Semua perjalanan dan kegiatan pemerintah yang tidak esensial juga dilarang sementara, seperti studi banding, kegiatan membangun tim, atau pertemuan yang sejatinya dapat dilakukan secara daring," tegas Marcos, sebagaimana diungkapkan dalam laporan Bloomberg.

Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor minyak, Filipina sangat rentan terhadap gejolak harga energi global. Dengan memanasnya konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, Filipina diperkirakan akan menanggung dampak signifikan, termasuk lonjakan inflasi yang pada Februari lalu telah mencapai rekor tertinggi dalam 13 bulan.

Dalam pernyataannya yang penuh keprihatinan, Marcos Jr. menyampaikan, "Saudara-saudaraku, kita tidak tahu kapan kekacauan di Timur Tengah akan berakhir. Kita adalah korban perang yang tidak kita pilih dan tidak kita inginkan. Kita tidak dapat mengendalikan perang, tetapi kita dapat mengendalikan bagaimana kita akan melindungi rakyat Filipina."

Para ekonom secara luas memandang Filipina sebagai salah satu negara di kawasan Asia-Pasifik yang paling rentan terhadap risiko inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah. Deepali Bhargava, Kepala Riset Regional di ING Bank NV, menjelaskan, "Negara ini cenderung mengalami dampak inflasi yang lebih kuat karena harga bahan bakar ritel lebih didorong oleh mekanisme pasar dan memiliki subsidi yang terbatas."

Namun, kebijakan pemangkasan jam kerja ini tidak luput dari kritik dan kekhawatiran, terutama dari sektor industri. Kamar Dagang dan Industri Filipina (PCCI) telah memperingatkan bahwa pengurangan hari kerja dapat secara signifikan memukul industri manufaktur, yang merupakan salah satu pilar utama perekonomian negara. "Kita telah beroperasi dengan sumber daya yang terbatas, dan pengurangan lebih lanjut jumlah hari kerja dapat mempengaruhi komitmen serta produktivitas kita," ujar Perry Ferrer, Presiden Kamar Dagang Filipina.


Related Post