Emas Dubai Diobral Murah! Perang AS-Iran Biang Keladi!

Author Image

Hadi Wibawa

7 Maret 2026, 20:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id melaporkan kabar mengejutkan dari pasar komoditas global. Harga emas di Dubai, salah satu pusat perdagangan logam mulia dunia, kini diobral dengan diskon signifikan. Fenomena ini disinyalir kuat sebagai imbas langsung dari eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memanas, menyebabkan kelebihan pasokan emas akibat terhambatnya jalur distribusi. Informasi ini dikutip dari Bloomberg, Sabtu (7/3/2026).

Di tengah ketegangan geopolitik yang kian memanas, banyak pembeli global terpaksa membatalkan pesanan mereka. Alasannya jelas: mereka enggan menanggung beban biaya pengiriman dan asuransi yang melambung tinggi, ditambah lagi tanpa adanya jaminan pengiriman tepat waktu. Untuk menyiasati penumpukan stok yang masif ini, para pelaku pasar emas di Dubai kini menawarkan diskon hingga US$ 30 per ons.

Emas Dubai Diobral Murah! Perang AS-Iran Biang Keladi!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Sebagai informasi, Uni Emirat Arab, khususnya Dubai, memegang peranan krusial sebagai pusat pemurnian dan eksportir utama emas batangan ke berbagai penjuru Asia. Wilayah ini juga menjadi jalur transit penting bagi pengiriman emas dari Swiss, Inggris, dan beberapa negara di Afrika. Namun, jalur vital ini kini terganggu parah. Pengiriman emas via udara menjadi sangat sulit lantaran sebagian besar wilayah udara telah ditutup menyusul rentetan serangan rudal yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Konflik ini, yang telah berlangsung selama tujuh hari tanpa tanda-tanda mereda, semakin memperparah situasi.

Tak hanya pengiriman produk jadi, perusahaan pengolahan emas juga menghadapi kendala serius dalam memperoleh ‘dore’ – batangan emas setengah jadi yang biasanya dicetak langsung di lokasi tambang. Ketersediaan bahan baku ini kini menjadi tantangan besar. Ambil contoh MMTC-PAMP, perusahaan pengolahan logam mulia terbesar di India. Mereka biasanya mengandalkan sekitar 10% dari total produksinya dari tambang di Timur Tengah. Namun, pasokan vital ini kini sepenuhnya terganggu. Akibatnya, untuk mendapatkan bahan baku dari sumber lain, biaya logistik telah melonjak drastis hingga 60-70% sejak pecahnya perang.

Related Post