Redaksibengkulu.co.id, Jakarta – Kabar mengenai rencana konsolidasi maskapai BUMN yang melibatkan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dan Pelita Air semakin mengemuka. Manajemen Garuda akhirnya angkat bicara, mengonfirmasi bahwa wacana besar ini masih dalam tahap kajian mendalam. Pembahasan intensif tengah berlangsung bersama para pemegang saham dan pihak-pihak terkait.
Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), yang dikutip Redaksibengkulu.co.id pada Minggu (2/8/2026), Garuda menjelaskan bahwa kajian tersebut mencakup berbagai aspek krusial. Mulai dari arah strategis, bentuk, struktur, tahapan pelaksanaan, jangka waktu, hingga mekanisme implementasi. Semua ini dirancang untuk memperkuat ekosistem bisnis Garuda Indonesia Group sejalan dengan agenda transformasi perseroan.

Manajemen Garuda menegaskan komitmennya untuk terus menjalankan agenda transformasi secara konsisten dan terukur. Fokus utama tetap pada penguatan fundamental bisnis, kesiapan operasional, keberlanjutan usaha, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik. Setiap perkembangan signifikan akan diumumkan kepada publik sesuai ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku.
Also Read
Terkait struktur kepemilikan Pelita Air pasca-konsolidasi, Garuda belum dapat memberikan rincian pasti. Perseroan menyatakan bahwa struktur kepemilikan saat ini mengacu pada data resmi entitas terkait. Perubahan struktur kepemilikan, termasuk entitas anak perseroan, akan bergantung pada bentuk dan struktur transaksi yang ditetapkan melalui mekanisme persetujuan yang berlaku. "Setiap perubahan akan disampaikan kepada publik sesuai dengan kewajiban keterbukaan informasi Perseroan," tambah manajemen.
Analisis dampak finansial pasca-konsolidasi terhadap operasional dan kinerja keuangan perseroan juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kajian menyeluruh ini. Garuda memastikan kegiatan operasional tetap berjalan sesuai rencana, sembari agenda transformasi terus digulirkan untuk penguatan fundamental bisnis dan penciptaan nilai jangka panjang.
Lebih lanjut, kontribusi keuangan Pelita Air dan periode laporan keuangan yang mencerminkan aksi korporasi ini akan disesuaikan dengan bentuk dan struktur transaksi, waktu efektif pelaksanaan, serta perlakuan akuntansi standar yang berlaku. Garuda memprioritaskan penguatan fundamental bisnis dan kesiapan korporasi sebagai pilar transformasi berkelanjutan.
Pembentukan ekosistem aviasi yang semakin solid, menurut manajemen Garuda, membutuhkan kesiapan menyeluruh. Ini mencakup fundamental bisnis, tata kelola, operasional, sumber daya, hingga keberlanjutan usaha. "Arah strategis rencana aksi korporasi ini terus dikoordinasikan secara intensif bersama pemegang saham dan para pemangku kepentingan terkait," jelas manajemen.
Proses koordinasi ini melibatkan penyampaian data, kajian, perspektif korporasi, kesiapan operasional, dan mitigasi risiko yang diperlukan dari Garuda. Penetapan arah kebijakan dan keputusan terkait aksi korporasi akan dilaksanakan melalui mekanisme pengambilan keputusan sesuai kewenangan pemegang saham, yakni PT Danantara Asset Management, serta pihak-pihak terkait. Seluruh proses mengedepankan prinsip kehati-hatian dan tata kelola perusahaan yang baik.
Wacana penggabungan ini mencuat setelah Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, bertemu dengan jajaran direksi Pelita Air pada Kamis (23/7/2026). Dony kala itu menyatakan bahwa Garuda Indonesia akan menjadi holding maskapai BUMN, dengan Pelita Air bergabung di bawahnya. Langkah ini disebut sebagai konsolidasi strategis untuk memperkuat industri penerbangan nasional. "Dengan konsolidasi ini, perusahaan-perusahaan tersebut akan memiliki kemampuan yang lebih kuat untuk bersaing dan menguasai pasar," tegas Dony.




