Geger! Saudi Tutup Jalur Minyak Krusial, Harga Langsung Meledak!

Author Image

Hadi Wibawa

14 September 2026, 08:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Pasar energi global kembali bergejolak hebat. Harga minyak dunia melonjak drastis setelah Arab Saudi mengambil langkah mengejutkan dengan menutup East-West Pipeline, jalur vital yang selama ini menjadi alternatif pengiriman minyak tanpa melalui Selat Hormuz yang rawan. Pada perdagangan Minggu (14/9/2026), minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) melesat 2,8% mencapai US$ 102,87 per barel, sementara harga minyak Brent tak kalah perkasa, terkerek 3,1% hingga menyentuh US$ 107,87 per barel.

Penutupan jalur pipa strategis ini dipicu oleh kerusakan parah akibat serangan drone yang diluncurkan dari Irak pada Kamis pekan lalu. Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Arab Saudi masih bungkam mengenai tingkat kerusakan sebenarnya dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk perbaikan, meninggalkan spekulasi dan ketidakpastian di pasar.

Geger! Saudi Tutup Jalur Minyak Krusial, Harga Langsung Meledak!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Dampak dari insiden ini tidak hanya terasa di pasar komoditas, namun juga merambat ke ranah diplomatik dan keamanan regional. Pertemuan penting antara Iran dan negara-negara Arab Teluk yang seharusnya digelar Senin di Oman untuk membahas situasi Selat Hormuz terpaksa ditunda. "Demi mencapai kesepakatan bersama, pertemuan regional yang dijadwalkan besok di Salalah telah ditunda," ungkap Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, Minggu, menegaskan komitmen untuk mendorong dialog. Sementara itu, ketegangan di Selat Hormuz belum menunjukkan tanda-tanda mereda, dengan laporan United Kingdom Maritime Trade Operations Center yang menyebutkan sebuah kapal tanker kembali diserang dan mengalami kebakaran hebat pada Minggu.

East-West Pipeline bukanlah jalur biasa. Dengan kapasitas raksasa hingga 7 juta barel minyak per hari, pipa ini membentang melintasi jantung Arab Saudi, menghubungkan kawasan penghasil minyak di dekat Teluk Persia dengan terminal ekspor di pesisir Laut Merah. Keberadaannya menjadi krusial, terutama sejak perang Iran mengganggu pasokan minyak, memungkinkan Saudi mengalihkan pengiriman dari kawasan Teluk di tengah perebutan kendali Selat Hormuz antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Bahkan, CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, pernah menyatakan pada Agustus lalu bahwa peran pipa ini lebih vital dalam menjaga stabilitas pasar minyak dibandingkan pelepasan cadangan minyak strategis AS secara besar-besaran.

Tekanan terhadap Arab Saudi juga semakin intens dari kelompok-kelompok bersenjata yang bersekutu dengan Iran. Pada awal pekan lalu, kelompok Houthi di Yaman melancarkan serangkaian serangan terhadap fasilitas energi dan aset sipil di Saudi, menyebabkan lebih dari 70 orang terluka, demikian laporan media pemerintah Saudi. Tak hanya itu, Houthi juga dilaporkan telah berhasil merebut Pulau Perim di Selat Bab el-Mandeb, setelah sebelumnya menguasai kota pelabuhan Mokha di pesisir barat Yaman. Penguasaan wilayah-wilayah strategis ini memperkuat posisi Houthi untuk mengganggu lalu lintas minyak melalui Bab el-Mandeb, salah satu akses vital yang menghubungkan Laut Merah bagian selatan dengan pasar global, menyusul pengumuman embargo maritim terhadap Arab Saudi pada Juli lalu.

Related Post