GILA! Harga Minyak Dunia Meroket, Tembus $108!

Author Image

Hadi Wibawa

11 September 2026, 08:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id, Jakarta – Pasar energi global dikejutkan dengan lonjakan harga minyak mentah yang fantastis pada perdagangan Kamis (10/9). Patokan global, minyak Brent, berhasil menembus angka US$ 108 per barel, sebuah rekor yang belum terlihat dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan drastis ini tak lain dipicu oleh memanasnya tensi geopolitik, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Pusaran konflik di Timur Tengah menjadi biang keladi utama. Pertempuran sengit di Selat Hormuz dan Laut Merah, di mana AS dan Iran saling melancarkan serangan, menciptakan ketidakpastian akut. Situasi diperparah dengan serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap Arab Saudi, memicu ketegangan di Selat Bab al-Mandab. Kekhawatiran akan terganggunya rantai pasokan global mendorong para pedagang untuk memborong minyak mentah, secara otomatis mendongkrak harga komoditas strategis ini.

GILA! Harga Minyak Dunia Meroket, Tembus 8!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Minyak mentah Brent, yang menjadi acuan harga global, mencatat kenaikan impresif sebesar 7,1%, sempat menyentuh US$ 108 per barel. Meski sedikit terkoreksi, Brent akhirnya ditutup pada level US$ 107,63 per barel, menguat 6,34% pada hari yang sama. Angka ini merupakan penutupan tertinggi bagi Brent sejak 19 Mei dan menandai lonjakan harian terbesar dalam enam minggu terakhir.

Tak hanya Brent, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menunjukkan performa serupa. WTI sempat melesat 7,3% hingga menyentuh US$ 103 per barel, sebelum akhirnya ditutup pada US$ 102,48, menguat 6,69%. Capaian ini menjadi penutupan tertinggi WTI sejak 19 Mei dan merupakan lonjakan harian terbesar dalam dua bulan terakhir.

Menanggapi situasi ini, Jason Tuvey, Wakil Kepala Ekonom Pasar Negara Berkembang di Capital Economics, memberikan pandangannya. Menurutnya, eskalasi serangan di Selat Hormuz dan gempuran Houthi terhadap Arab Saudi mengisyaratkan upaya Iran dan sekutunya untuk mengambil alih kendali dalam konflik. "Kondisi ini berpotensi menghambat pemulihan produksi minyak di kawasan Teluk dan secara signifikan meningkatkan risiko kenaikan harga energi global dalam beberapa minggu ke depan," jelas Tuvey, seperti dikutip oleh redaksibengkulu.co.id pada Jumat (11/9).

Proyeksi suram juga datang dari S&P Global Energy. Untuk pertama kalinya sejak pecahnya konflik, S&P tidak lagi meyakini bahwa produksi minyak di Timur Tengah akan kembali ke level pra-perang hingga akhir tahun depan. Mereka bahkan

Related Post