Harga Beras Bikin Pusing? Bulog Vs BPS Beda Data!

Harga Beras Bikin Pusing? Bulog Vs BPS Beda Data!

Redaksibengkulu.co.id – Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengindikasikan adanya kenaikan harga beras di berbagai tingkatan, mulai dari penggilingan hingga eceran, memicu bantahan keras dari Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani. Rizal dengan tegas menyatakan bahwa harga beras di lapangan tetap stabil dan masih sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.

Dalam keterangannya kepada wartawan di kantornya, Jakarta Selatan, Minggu (11/1/2026), Rizal mengklaim bahwa selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang baru berlalu, pihaknya tidak menerima keluhan berarti terkait lonjakan harga beras maupun kebutuhan pokok lainnya. "Harga beras sesuai dengan HET. Sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi ditentukan oleh pemerintah. Mungkin selama beberapa hari terakhir ini menjelang Natal Tahun Baru tidak ada bahasa-bahasa yang sifatnya komplain ya terkait dengan kenaikan harga, baik beras sendiri maupun sembako," ujar Rizal.

Harga Beras Bikin Pusing? Bulog Vs BPS Beda Data!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Menurut Rizal, stabilitas harga ini merupakan hasil dari upaya pemerintah yang tak kenal lelah dalam melakukan pemantauan serta inspeksi mendadak (sidak) pasar di berbagai wilayah. Ia menambahkan, Satuan Tugas Pangan (Satgas Pangan) juga turut terjun langsung ke lapangan untuk memastikan tidak ada praktik penimbunan atau permainan harga yang dapat memicu kenaikan. "Maka dampak dari itu, termasuk Satgas Pangan juga yang terjun langsung ke lapangan, harganya tidak ada yang menonjol naik. Alhamdulillah. Sepengetahuan kami," imbuhnya.

COLLABMEDIANET

Menanggapi data BPS yang menunjukkan tren kenaikan harga beras pada Desember, Rizal tetap pada pendiriannya, menyatakan bahwa hasil pantauan Bulog justru menunjukkan harga beras masih terkendali di bawah harga yang ditetapkan pemerintah. "Enggak mungkin, karena buktinya di lapangan enggak ada yang naik gitu loh. Berarti mungkin coba dicek-cek ulang nanti, coba diyakinkan ya. Karena harga beras medium itu maksimal Rp 12.500, beras premium adalah Rp 14.900," jelas Rizal, menantang data BPS untuk dikaji ulang.

Namun, kontras dengan klaim Bulog, data yang dirilis BPS menyajikan gambaran yang berbeda. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, sebelumnya melaporkan bahwa harga beras di tingkat penggilingan telah mencapai Rp13.488 per kilogram (kg). Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 6,38 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dan 1,26 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).

Pudji merinci lebih lanjut, berdasarkan kualitasnya, beras premium di tingkat penggilingan mengalami kenaikan 2,62 persen (mtm) dan 6,92 persen (yoy). Sementara itu, beras medium juga tidak luput dari kenaikan, tercatat naik 0,67 persen (mtm) dan 6,72 persen (yoy).

Tren kenaikan juga terpantau di tingkat selanjutnya. Harga beras di tingkat grosir tercatat Rp14.162 per kg, menunjukkan kenaikan 5 persen secara tahunan dan 0,22 persen secara bulanan. Puncaknya, di tingkat eceran, harga beras telah menyentuh level Rp15.081 per kg, dengan kenaikan 0,18 persen (yoy) dan 3,64 persen (mtm). Data ini, seperti dikutip dari CNN Indonesia, menyoroti adanya disparitas data yang mencolok antara klaim Bulog dan temuan BPS, menyisakan pertanyaan di benak masyarakat mengenai kondisi riil harga beras di pasaran.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar