IHSG Anjlok! Saham Ini Justru Melesat, Cek Daftarnya!

Author Image

Hadi Wibawa

11 September 2026, 08:46 WIB

Redaksibengkulu.co.id, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terpuruk pada perdagangan Kamis, 10 September 2026, terjun bebas 1,33% dan parkir di level 6.589,34. Pelemahan signifikan ini diwarnai aksi jual bersih (net sell) investor asing yang masif, mencapai Rp1,95 triliun di seluruh pasar, atau Rp747,51 miliar khusus di pasar reguler. Namun, di tengah badai merah, beberapa saham justru mampu melawan arus dan mencatatkan kenaikan impresif.

Dinamika Pasar: Sentimen Negatif Menyelimuti

IHSG Anjlok! Saham Ini Justru Melesat, Cek Daftarnya!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Tekanan jual melanda hampir seluruh sektor, dengan 11 sektor berakhir di zona merah. Sektor energi menjadi yang paling terpukul, anjlok 2,06%, sementara sektor teknologi menunjukkan ketahanan relatif dengan koreksi paling terbatas, hanya 0,56%.

Di tengah sentimen negatif global, bursa Amerika Serikat juga kompak melemah. Dow Jones terkoreksi 0,60% ke 52.064, S&P 500 turun 0,58% ke 7.591, dan Nasdaq melemah 0,65% ke 26.081. Eskalasi geopolitik antara AS dan Iran, serta kenaikan harga minyak, turut menambah beban pasar.

Dari dalam negeri, investor juga melakukan positioning menjelang pengumuman review GDX/GDXJ. Ketidakpastian mengenai potensi passive flow dari ETF berbasis GDX/GDXJ memicu tekanan pada sejumlah saham emas. Akibatnya, ETF EIDO dan indeks MSCI Indonesia masing-masing turun 2,13% dan 1,29%.

Meski demikian, beberapa saham berhasil mencuri perhatian dengan penguatan signifikan. KPIG memimpin dengan kenaikan 28,79%, diikuti CUAN yang tumbuh 4,79%, dan ANTM menguat 2,19%. Di sisi lain, saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBRI tak berdaya dengan penurunan 2,92%, BYAN melemah 4,90%, dan BBCA terkoreksi 1,53%.

Sorotan Emiten: Ekspansi dan Strategi Korporasi

NexAI Digital Infrastruktur (MGLV)
MGLV berencana menggelar rights issue dengan menerbitkan maksimal 285,73 juta saham baru. Dengan harga pelaksanaan Rp8.880 per saham, perseroan berpotensi meraup dana sekitar Rp2,54 triliun. Rencana ini telah disetujui RUPSLB pada 7 September 2026. Dana hasil aksi korporasi akan dialokasikan untuk pengembangan pusat data AI Tier III berkapasitas total 102 MW, meliputi ekspansi 36 MW di Jababeka dan pembangunan 60 MW di Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang. Sebagian dana juga akan digunakan untuk penguatan struktur modal melalui pengambilalihan piutang anak usaha. Pemegang saham utama, Nextier Datamate Center, telah menyatakan komitmen untuk menyerap seluruh haknya senilai sekitar Rp1,85 triliun. Secara teknikal, saham MGLV berpotensi bergerak menuju area Rp16.850, yang merupakan level Fibonacci extension 2.618.

Medco Energi Internasional (MEDC)
MEDC menargetkan first gas dari Blok Sakakemang pada kuartal III 2027, yang menjadi bagian integral dari strategi pengembangan portofolio minyak dan gas perseroan. MEDC tetap optimistis dengan target produksi migas 2026 pada kisaran 165–170 mboepd, didukung alokasi capex sebesar US$415 juta untuk segmen Oil & Gas. Selain Sakakemang, sejumlah proyek lain seperti Suban, Sambar, dan Bualuang juga menjadi fokus pengembangan. Senoro Phase 2A telah beroperasi penuh sejak Juni 2026, sementara Bualuang Renewal Plan Phase I mulai menghasilkan produksi pada kuartal II 2026. Dalam jangka pendek, saham MEDC secara teknikal berpotensi menguji area gap Rp1.695, didukung volume yang relatif stabil dan indikator stochastic yang menunjukkan arah naik.

Hartadinata Abadi (HRTA)
HRTA berencana melakukan private placement dengan menerbitkan maksimal 460,53 juta saham baru, setara 10% dari total saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh. Harga pelaksanaan akan ditetapkan paling sedikit 90% dari rata-rata harga penutupan saham HRTA selama 25 hari bursa berturut-turut di pasar reguler. Dengan asumsi harga penutupan pada 10 September 2026, perseroan berpotensi memperoleh dana sekitar Rp1,02 triliun. Seluruh dana yang dihimpun dari aksi ini akan digunakan untuk kebutuhan modal kerja. Berdasarkan proforma per 30 Juni 2026, total ekuitas HRTA diproyeksikan meningkat 27,90% menjadi Rp4,79 triliun, sementara total aset diproyeksikan naik 9,21% menjadi Rp12,40

Related Post