Redaksibengkulu.co.id – Kabar baik datang dari Kementerian Pertanian terkait harga beras di berbagai daerah. Jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga beras dilaporkan terus menurun. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, saat ini hanya 37 daerah yang masih mencatatkan kenaikan harga, turun signifikan dari 48 daerah pada pekan sebelumnya.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, menegaskan komitmen pemerintah untuk terus menekan harga beras. "Satgas pengendalian harga beras terus turun. Kemarin ada 48 kabupaten (minggu kelima Oktober), 48 daerah, tapi ini sudah turun (menjadi 37 daerah). Satgas dan Bapanas kan sudah menurunkan harga. Nah sekarang kita mau turunkan lagi. Kita tidak boleh puas," ujarnya dalam keterangan tertulis.
Mentan juga mencatat penurunan harga rata-rata beras medium dan premium secara nasional. Berdasarkan Panel Harga Pangan, pada 27 November, harga rata-rata beras medium di Zona 1 berada di Rp 13.078/kg, turun 1,92% dibandingkan bulan lalu. Zona 2 mencatatkan penurunan 2,29% menjadi Rp 13.616/kg, sementara Zona 3 turun paling signifikan, 4,67% menjadi Rp 15.532/kg.

Related Post
Meskipun harga beras premium juga menunjukkan tren penurunan, pemerintah masih perlu melakukan intervensi lebih lanjut untuk mengendalikan harga agar sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET). Data BPS juga mengonfirmasi penurunan harga beras dalam sebulan terakhir, dengan beras medium turun 1,54% dan beras premium turun 1,67% dibandingkan Oktober 2025.
Amran Sulaiman menekankan bahwa produksi beras Indonesia tahun ini meningkat pesat, menjamin ketersediaan stok yang aman. "Masyarakat tidak boleh mendapatkan beras dengan harga yang tidak sesuai HET. Petani pun juga tidak boleh jatuh harganya. Motivasi petani kita harus terus dijaga. Pemerintah harus menjaga petani sampai masyarakat," tegasnya.
Berdasarkan Kerangka Sampel Area (KSA) BPS, produksi beras nasional Januari hingga Desember diperkirakan mencapai 34,77 juta ton, melebihi kebutuhan konsumsi masyarakat sebesar 30,97 juta ton, sehingga surplus 3,8 juta ton.
Food and Agriculture Organization (FAO) bahkan memprediksi produksi beras Indonesia periode 2025-2026 dapat mencapai 36 juta ton, meningkat dari perkiraan sebelumnya. Dengan produksi ini, Indonesia diproyeksikan menjadi produsen beras terbesar di Asia Tenggara, melampaui Vietnam, Thailand, Myanmar, Filipina, dan Malaysia.









Tinggalkan komentar