Redaksibengkulu.co.id – Lanskap manufaktur global menghadirkan gambaran yang kontras memasuki awal tahun 2026. Data yang dirilis pada Jumat (2/1/2026) menunjukkan bahwa pada Desember lalu, aktivitas manufaktur di kawasan Eropa kian melemah, berbanding terbalik dengan kondisi di Asia yang menjadi basis utama industri manufaktur global, yang justru menunjukkan pemulihan signifikan.
Survei sektor swasta mengindikasikan bahwa pabrik-pabrik di Asia mendapat dorongan kuat dari pemulihan pesanan ekspor serta meningkatnya permintaan produk kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Sementara itu, di kawasan Uni Eropa, tekanan pada sektor manufaktur kian menguat. Produksi mencatat penurunan untuk pertama kalinya dalam sepuluh bulan terakhir, seiring dengan berlanjutnya penurunan pesanan baru.
Indeks Manufaktur Zona Euro versi HCOB yang disusun S&P Global turun ke level 48,8 pada Desember, dari 49,6 pada November. Angka tersebut merupakan yang terendah dalam sembilan bulan dan bertahan di bawah ambang batas 50 poin, yang memisahkan ekspansi dari kontraksi, untuk bulan kedua secara beruntun.

Related Post
Kondisi pelemahan ini terjadi secara meluas di 20 negara anggota zona euro. Jerman, sebagai ekonomi terbesar di kawasan tersebut, mencatat kinerja terlemah di antara delapan negara yang dipantau, dengan PMI menyentuh level terendah dalam 10 bulan. Italia dan Spanyol juga kembali terjerembap ke zona kontraksi. "Permintaan terhadap produk manufaktur dari zona euro kembali melambat," kata Kepala Ekonom Hamburg Commercial Bank, Cyrus de la Rubia. Menurutnya, keengganan atau ketidakmampuan perusahaan untuk membangun momentum di tahun mendatang, serta sikap hati-hati yang berlebihan, pada akhirnya dapat menjadi "racun" bagi perekonomian.
Namun, di sisi lain, lanskap manufaktur Asia menghadirkan narasi yang kontras. Kinerja manufaktur di kawasan ini justru membaik secara signifikan. Aktivitas pabrik di Korea Selatan dan Taiwan, dua negara eksportir teknologi utama, berhasil menunjukkan kebangkitan pada Desember, setelah berbulan-bulan bergelut dengan penurunan. Sebagian besar negara Asia Tenggara juga mampu mempertahankan laju pertumbuhan yang cukup solid.
Perbaikan ini juga selaras dengan data yang dirilis sebelumnya dari Tiongkok, yang menunjukkan aktivitas manufaktur di ekonomi terbesar kedua dunia itu secara tak terduga kembali tumbuh, didorong oleh lonjakan pesanan menjelang musim liburan. Pemulihan pesanan ekspor dan meningkatnya permintaan produk kecerdasan buatan menjadi motor penggerak utama di balik kebangkitan sektor manufaktur Asia.
Kendati masih terlalu dini untuk memastikan apakah para eksportir utama Asia telah sepenuhnya beradaptasi dengan kebijakan tarif Amerika Serikat, sinyal-sinyal pemulihan permintaan global memberikan secercah optimisme yang kuat bagi sektor manufaktur saat memasuki tahun baru. Ini menandai pergeseran dinamika ekonomi global, di mana Asia tampaknya siap memimpin pemulihan manufaktur.









Tinggalkan komentar